syair cinta untuk cinta

•September 5, 2009 • Leave a Comment

kau tau cinta
ternyata dia begitu sempurna
disaat aku menyakitinya
dia masih menyapaku dengan kata-kata manja
kau tau cinta
ternyata dia begitu sempurna
dikala aku marah
dia menghiburku dengan belaian lembutnya
atau
ketika aku nampak berubah raut sedikit saja wajah ini
dia merubah posisi bibirku ini dengan jemarinya
lantas dia berujar
”sayang,besok pasti akan lebih baik dari ini”
———————————————————–
kau tau cinta
aku acapkali menyakitinya dengan pisau ini
tapi kau tahu cinta
aku selalu diberikannya madu melalui bibirnya
dan kau tau cinta
aku selalu dicumbunya dengan kalimat-kalimat yang mampu membuatku berderai
disaat itu pula,
cinta
apakah kau juga ingin tau
kalau dia pernah berujar
”sayang,cintailah aku karna Allah”
————————————————————
langit
lukiskan namanya dipermukaan halus mu
bayu
sampaikan padanya aku senantiasa merindu
banyu
katakan pada dirinya kalau aku telah lama menunggu
cahaya
pantulkan sinar kasihku ke dalam hatinya
bantu aku melepas sukma ini
aku ingin bertemu dengannya
walau aku tak bisa kembalikan jiwaku setelah itu
tapi aku mampu menatapnya di kala tidur
di dalam kondisi temaram wajahnya, tersungging kedua bibirnya
terus aku bisikkan padanya
”sayang mungkin esok aku takkan kembali”

———————————–
bmi krpyk,140109;22.42wib
———————————–

Simtud Duror: ‘Mukaddimah’ Dakwah NU di UGM

•April 18, 2009 • Leave a Comment

Suasana sudah cukup ramai malam itu, setelah kami memarkir motor di area parkir masjid kampus termegah di Indonesia ini, langkah kami pun langsung menuju serambi masjid yang luas dan biasa digunakan untuk kegiatan-kegiatan besar. Malam senin ini (12/4) dibawah komando Keluarga Mahasiswa Nahdhatul ‘Ulama Universitas Gadjah Mada (KMNU UGM), berhasil mengadakan Majelis Shalawatan Simtud Duror yang dipimpin oleh Habib Syech bin Abdul Qodir Assegaf, bersama grup rebana yang biasa mengiringi beliau.
Sebelum kegiatan puncak dimulai, kami sempat menyaksikan sambutan yang diutarakan oleh Prof. Dr. KH. Muhammad Maksum selaku Ketua Tanfidziyah PWNU DIY, yang selalu mengulang ucapannya sendiri, bahwa kegiatan malam ini hanyalah bersifat ‘mukaddimah’ atau awal dari rangkaian kegiatan yang kedepan akan menjadi agenda KMNU untuk menyiarkan dakwah kampus di UGM, serta turut mewarnai dinamika dakwah kampus dengan aroma shalawatan kepada kanjeng Nabi Muhammad saw, serta dengan aktifitas lainnya, yang dilandasi atas ruh dakwah ahlus sunnah wal jama’ah (aswaja).
Untaian kalimat beliau, serasa membangkitkan optimisme saya selaku salah satu peserta malam itu, yang juga ditandai dengan respon riuh peserta lainnya yang sama-sama berharap, bahwa nuansa dakwah ahlus sunnah wal jamaah jamiyah an-nahdhat al-‘ulama harus diawali dari malam ini dan terus mengudara untuk waktu yang tidak terbatas. Ini semua menjadi tanggung jawab semua mahasiswa dan siapa saja yang merasa diri mereka bagian dari jamiyah ini.
Penulis melihat arus dakwah kampus yang lebih didominasi dengan nuansa yang kurang sehat serta kurang adanya tabayun (klarifikasi) diantara kelompok, terkadang membuat nuansa dakwah terkesan sangat eksklusif dan egoisme sentris, antara kelompok Islam jarang (atau bisa dikatakan tidak) untuk senantiasa berdialog terkait kepercayaan dan keyakinannya dalam menjalankan sunnah Nabi. Tidak jarang masjid dijadikan ajang menghakimi atas ritual kelompok lain yang dianggap bid’ah dan tergolong dhalalah (buruk), tanpa dilakukan tabayun terlebih dulu, dan itu mencitrakan dakwah Islam yang keras dan egois padahal menghukumi saudaranya yang masih meyakini bahwa tiada ilah selain Allah dan Muhammad merupakan utusan Allah merupakan suatu perbuatan yang lebih sangat buruk dari itu.
Semoga Simtud Duror yang malam itu dipimpin oleh salah satu murid dari cucu penyusun syair-syair Simtud Duror, Syech al ‘allamah Habib Muhammad al Habsyi dari Hadramaut, mampu menjadi batu loncat awal perjuangan dakwah kampus para santri jamiyah yang didirikan oleh al ‘allamah al maghfurlah Romo KH. Muhammad Hasyim ‘Asyari tersebut, yang sebentar lagi genap seabad usianya.
Malam itu untaian syair-syair simtud duror yang terlantun dari lisan Habib Syech dan para peserta mampu menyihir nuansa di area Masjid Kampus UGM semarak oleh pujian terhadap baginda Muhammad saw, bershalawat terhadap beliau merupakan suatu kewajiban atas seluruh umat muslim.

Allahumma shalli ‘ala Muhammad….
Allahumma Shalli ‘Alaih
Allahu Akbar,,!!

-deKciL-
Krpyk,16.04.09;21.16 wib

Kritik Diri Vol.2

•April 9, 2009 • Leave a Comment

kemunafikan
angkuh
busuk
kotor
bercampur menjadi satu nadi
kehidupan
————————————————————
hina diri
sombong hati
angkuh raga
dan semua yang kau miliki
mesti berkelahi dengan luar diri
yang hendak pergi dan berlari
karena tidak kuat terpenjara dalam egosentris diri
————————————————————
kematian
tangga menuju eksistensi diri yang abadi
dan kehidupan
hanya menghancurkan nadi essensi
siapa aku?
————————————————————
langit mendung
bumi menangis
tanah bersorak
dan udara bersemedi
dan sekarang
siapa yang bertanggung jawab….
Tuhan?
————————————————————
dimana kau yang katanya penguasa kami
dimana kau yang katanya penggenggam ruh-ruh diri
dimana kau yang dulu selalu kuajak berdiskusi tentang kehidupan
apa sekarang kau hanya milik sebagian orang saja
yang mengais-ngais mantra dibilik-bilik istanamu
atau mereka yang mengumbar namamu ditengah hingar-bingar sandiwara politik negeri ini
————————————————————-
muhammad revolusioner
marx juga
gandhi pun demikian
kristus lebih dari itu
lantas sekarang..
siapa yang (re)evolusioner?
atau selama ini kita hanya sekedar (re)volunteer belaka
————————————————————-

deKcL
krpyk;060409

Kritik Diri

•April 2, 2009 • Leave a Comment

hai jumat pagi
seharusnya kau menyiramiku dengan kesejukan hati
semestinya kau menaburiku dengan cahaya kehidupan diri
dan setidak-tidaknya kau memberikanku setetes embun kematian
hai jumat pagi
kau hadir membawa pertanyaan
sebuah laku fikir sederhana
yang ku sulam pada serabut-serabut saraf otak ini
tentang
siapakah aku?
——————————————–

siapakah aku
siapakah dia
terbenam dalam-dalam
hingga dasar lubab yang mengental keras ini
dimanakah aku
dimanakah dia
yang terasing di kejauhan indrawi
mengapa aku
mengapa dia
tidak menyatu dalam kehendak dan kuasa dia
malah teralienasi dan terbuang percuma
aku dan mereka disini
————————-

plakat kehidupan tertulis manja;
celaka, aku muncul disini!
plakat kematian tertulis hina;
selamat, aku telah kembali dirumah keabadian
—————————

aku merasa lepas dari tradisi turots
namun sekarang aku malah terbuikan oleh tradisi postmo
kalau begitu
aku harus terbang jauh meninggalkan mereka
menuju tradisi trans
ekstase bersama pundi-pundi sosialku disini

—————————
deKcL
jmt,270309;19.30

Pelukan Kasih

•March 26, 2009 • Leave a Comment

dalam pelukan kasih
kita berdawai indah dalam kesunyian
ingatkah kau?
bersenandung dalam buaian asmara meskipun masih sementara
namun aku memujimu dengan laku gerak yang kita lakukan
dan kita berlama-lama dengan itu
terus hingga puas
setelah itu kubelai mayangmu dengan kelembutan
dan ku berkata
“bagaimana jika esok kita lebih hebat dari ini, sayang?”
——————————————————–
aku ingin menatapmu sedalam-dalamnya lautan
hingga aku mampu menembus kemaluanmu
sampai dasarnya
lalu aku mampu merangsangmu
hingga kau buka seluruh busana yang menempel pada dirimu
kau jujur
tentang semuanya pada rajaku ini
hingga tak tersisa setetes pun keraguanku pada cinta
———————————————————

Rintihan Hati

•March 26, 2009 • Leave a Comment

sepi jiwa
sepi raga
sepi karya
sepi
tidak ada yang tau
tak terkecuali cinta
aku duduk disini
berharap daun jatuh atau gunung melangkah atau langit runtuh
tak usah ada yang tau
dulu aku tak mempermasalahkan jiwa yang terasing
sebab bagiku asing adalah pengakuan eksistensi
yah,pengakuan eksistensi ditengah keterasingan
kau tau
eksistensialis diri-ku ada disini
di duniaku sendiri
tanpa dia
tanpa kalian
tanpa mereka
apalagi kamu
aku jadi merasa ada jika asing tiba
aku bisa berlayar tanpa eling-eling
awas jatuh!
maka aku berhak
kalau akulah eksistensi itu
—————————————–
seperti saat ini
bahkan sepiku itulah cinta
tidak ada perhatian, pengertian, atau apalah namanya itu
inilah jiwa
aku ingin lepas seperti elang yang bebas bertamasya kemana-mana saja
tanpa belenggu yang mengikat erat
—————————————–
pagi tuhan
hari ini ruhku tak melayang-layang dikepalamu
atau barangkali dirimu tak lagi kutempatkan disini
tuhan
apa masih ada sisa bubur untukku pagi ini?
—————————————–
tuhan
aku kafir bukan?
kalau aku pergi ke lain hati
dimana letak kekafiranku itu, tuhan
—————————————–
pagi ruh
kau sedang apa
bagaimana dengan aktifitasmu pagi ini
apa yang kau hasilkan
selain tidur
lalu bangun
tidur lagi
terus bangun
tidur kembali
bangun
kemudian mati
titik
——————————————
pagi ufuk barat
sore ufuk timur
apa aku boleh berujar?
kapan aku mati
karena aku sudah muak melihatmu disini
——————————————
pagi cinta
malam cinta
sampai kapan kau bersemayam dihatiku
meski kau tak lagi bermanfaat untukku

——————————————
bajingan lapuk
menggerogoti waktu hanya dengan bermain dadu
berharap keberuntungan kosong
yang jatuh dari langit seketika
bim sala bim
——————————————
mataku
hanya menatap kosong
fatamorgana kehidupan
sejak kemarin sebenarnya dia telah terbuai dengan cinta
yang tidak kan memberi apa-apa buat jiwanya
——————————————
tanganku
meraba-raba kantung semar berikut batang kehidupan
dia berasa
apa saat ini akan keluar sesuatu dari sana?
yang mampu membuatnya sedikit melepas beban dunia

Guru, Eksistensi yang Hilang

•March 24, 2009 • Leave a Comment

Sungguh hari yang menyenangkan buatku, bagaimana tidak? Kunjunganku bersama teman ke suatu Sekolah Luar Biasa A yang khusus penyandang tuna netra di daerah Klaten, Jawa Tengah, sudah cukup membuat diri ini terenyuh, sekaligus bangga, sesekali mesti bersyukur berkali-kali kepada Yang Menciptakan ku di langit.
Perjalanan yang kami lalui cukup jauh, lumayan untuk ukuran 1 jam perjalanan dan dengan kondisi matahari yang cukup menyengat. Menggunakan motor, melaju dengan kecepatan cukup kencang, namun sesekali terkurangi sebab kondisi yang tidak memungkinkan. Setelah menuju Bapeda, dimana temanku hendak melakukan izin untuk penelitian, lalu kami ke tempat yang menjadi tempat riset temanku itu.
Perlahan memasuki sebuah sekolah yang jaraknya hanya 100 meter saja dari pinggir jalan raya. Areal sekolah cukup luas, dengan beberapa ruang kelas dan asrama siswa disana. Aku melihat, aka nada kegiatan yang sifatnya nonformal disana, sepertinya memang dari kalangan mahasiswa atau LSM, setelah melihat salah satu kondisi kelas, yah,,dari sana aku merasakan sesuatu yang membuat diri ini meski terenyuh, tersenyum, bahkan sesekali mestilah bersyukur dengan kondisiku saat ini.
Aku melihat kondisi mereka, saat itu masih sekilas lalu, namun mata ini, tidak langsung melupakan sedikit input yang ku dapat, setelah ke ruang guru bersama temanku, disana dia berbincang-bincang dengan salah seorang guru, yang kutahu beliau juga seorang tuna netra,,subhanallah, tapi beliau sudah cukup tua usianya, ada lagi disana seorang ibu, yang sedang asyik membaca buku dengan huruf Braille, dan senasib dengan bapak tadi, kemudian tak lama kemudian masuk seorang guru yang terlihat menggunakan tongkat yang dapat dilipat, dari seragamnya, beliau memang seorang guru yang juga tuna netra.
Perlahan langkahku melaju keluar, namun pandanganku tertuju pada suatu meja dengan sebuah piagam penghargaan yang telah di pigura, aku baca, ternyata itu piagam penghargaan dari mesium MURI Indonesia dengan tanda tangan Pak Jaya Suprana, dengan prestasi, bahwa sekolah itu tercatat sebagai kelompok marching band termuda di kalangan SLB Kelas A di Indonesia dengan usia 6-12 tahun…
Subhanallah,,,itukah sebuah awal kebanggaan ku pada sekolah sekaligus siswa-siswi di SLB A ini.
Langkahku perlahan keluar ruang guru, aku melihat sekelompok siswa sedang melakukan game/simulasi dengan memukul plastik yang berisi air yang telah di gantung pada tali diantara 2 pohon. Mereka membuatku tertarik, membuatku cukup berkesan, sekaligus membuatku terharu,,,betapa tidak…dalam kondisi keterbatasan yang mereka miliki, aku masih melihat secara nyata, keceriaan yang mereka munculkan, seolah mereka mampu merasakan cahaya kehidupan dihati mereka, meski mata mereka tidak mampu menatap kenikmatan dunia ini, mereka memang masih usia SD dan TK,,pantas masih mampu untuk ceria dan bersenang-senang (sebagian orang akan berfikir demikian), tapi bukan itu alasan yang tepat. Melainkan aku dapat belajar tentang hidup pada mereka, walau hanya setengah hari bahkan hanya beberapa jam saja mereka menjadi guru buatku….
Kita yang diberikan banyak sekali kelebihan, terkadang telah menjadi buta dan mati oleh kehidupan, bahkan sesekali enggan untuk menelanjangkan mata kita yang lebih tertarik untuk menutup rapat-rapat hati dan fikiran ini. Dunia yang serba bercahaya, yang tanpa disadari sesungguhnya telah membutakan mata, hati, dan fikiran ini. Hingga lebih parah lagi, kita sulit untuk membedakan mana yang baik dan mana yang buruk, disinilah mata kita seolah tumpul, perlahan hingga terpejam selamanya oleh kesenangan dunia. Lantas, bagaimana dengan para tuna netra apakah mereka mampu melihat? Tentu, jawabannya tidak. Tapi pendengaran, serta lebih baik lagi adalah mata hati mereka, lebih tajam dari sekedar manusia yang diberikan kelengkapan panca indra sekalipun.
Manusia yang buta sesungguhnya lebih baik penglihatannya, dan manusia yang mampu melihat, terkadang lebih parah dari seorang yang buta sekalipun. Tanpa disadari, para pelaku kejahatan, koruptor, bahkan lainnya, telah menjadi contoh pelecehan eksistensi manusia yang telah diberikan kesempurnaan panca indra, namun tanpa disadari pula para tuna netra, telah menghargai eksistensi mereka sendiri dan orang lain dengan penglihatan nurani mereka yang lebih tajam.
Aku menyadari dari sana, bahwa diri ini hanyalah papa, tanpa mereka tidak ada keseimbangan dalam dunia ini. Menjadikan mereka yang tuna netra, tuna rungu, tuna grahita, bahkan yang lainnya, sebagai guru kehidupan, memang layak dan sepantasnya kita menjaga mereka sebagai seseorang yang terkadang lebih mampu menghargai eksistensi manusia itu sendiri.

{deKcL}
sabtu,21/03/09
kamar inspirasi

the third serie’s

•January 19, 2009 • Leave a Comment

apa ujar kata ini
mengalir seperti air
apa ucap hati ini
berhembus seperti angin
apa tegur hati ini
ibarat keduanya
—————————–
esok akan kucoba terbangkan sayap-sayap kebebasan ini
namun, apa masih mungkin dapat kuterbangkan dia
semenjak tersimpan rapat-rapat dalam peti jenazah
sayap-sayap kata
yang kemarin sempat menemaniku bertamasya didunia fana
—————————-
wahai langit,
bukakan pintu surga untukku
atau kubuka paksa hari ini
dengan derai air mata
atau dengan taubatan nasuha
—————————-
hai mawar
hendak kemana kau berkelana
bukankah kita telah mengikat janji setia didalam gumpalan darah merekah
ataukah masih menunggu keputusan dewan langit dulu
sebelum kau benar-benar menjadi tanaman peliharaan ku esok
hai mawar
apa harus aku bersujud seribu tahun
dihadapan tuhan
hanya untuk darahmu
—————————–
hai dewan
izinkan aku intrupsi
bisakah aku menikahi peri
sebelum besok dia benar-benar pergi dari sini
—————————–
sejak kapan aku menangis dihadapan cinta?
apa sejak rasioku terpecah menjadi dua
atau perasaku telah mati kutu dihadapannya
sejak kapan aku singgah diatas tubuh cinta?
apa sejak rasioku telah buta
atau memang kita telah lupa
kalau tuhan dimukamuka kita semua
hingga yang nampak hanya sepintas belaka
oohh,nikmatnya anggur asmara
—————————–
malam melangkah bersama matahari
siang berlari mengejar bulan
apa yang hendak kita inginkan
selain satu kata
kawinkan kita dengan tuhan sebagai walinya
——————————–
sayang
besok kita akan pulang
ke tempat adam dikekang
ataukah iblis dibebaskan
pilihan bukan…
————–
sayang
besok kita akan berpetualang
bersama hati dan akal
bukan kaki dan tangan
kemana yang akan kita tuju, sayang
singgasana kehidupan?
ataukah
kita langsung saja ke kerajaan tuhan
berpeluh keringat dan berderai air mata disana
hingga beranak pun kita langsung diberkati tuhan
——————————
hidup
jalan menuju tuhan
mati
pintu meraih tangan tuhan
hidup lagi
kita ada didepan mata tuhan
——————————
sayang
esok aku tak ingin memberimu mahar
sepasang alat bertemu tuhan atau
tapi aku akan memberimu
barisan sabda tuhan
——————————
kasih tuhan
bukan diatas langit sana kau meminta
tapi di perempatan lampu merah, di bawah jembatan layang, atau dibalik istana gribik
disanalah kasih tuhan berada
——————————-
sekumpulan malaikat berdzikir
namun bukan disurau-surau kehidupan
melainkan ditempat-tempat hidung belang mencari cinta
atau pelacur-pelacur muda yang rela memberikan cintanya dihadapan tuhan
telanjang dalam kejujuran

—————————
krpyk,150109;17.10wib
—————————

the second serie’s

•January 19, 2009 • Leave a Comment

kau tau cinta
ternyata dia begitu sempurna
disaat aku menyakitinya
dia masih menyapaku dengan kata-kata manja
kau tau cinta
ternyata dia begitu sempurna
dikala aku marah
dia menghiburku dengan belaian lembutnya
atau
ketika aku nampak berubah raut sedikit saja wajah ini
dia merubah posisi bibirku ini dengan jemarinya
lantas dia berujar
”sayang,besok pasti akan lebih baik dari ini”
———————————————————–
kau tau cinta
aku acapkali menyakitinya dengan pisau ini
tapi kau tahu cinta
aku selalu diberikannya madu melalui bibirnya
dan kau tau cinta
aku selalu dicumbunya dengan kalimat-kalimat yang mampu membuatku berderai
disaat itu pula,
cinta
apakah kau juga ingin tau
kalau dia pernah berujar
”sayang,cintailah aku karna Allah”
————————————————————
langit
lukiskan namanya dipermukaan halus mu
bayu
sampaikan padanya aku senantiasa merindu
banyu
katakan pada dirinya kalau aku telah lama menunggu
cahaya
pantulkan sinar kasihku ke dalam hatinya
bantu aku melepas sukma ini
aku ingin bertemu dengannya
walau aku tak bisa kembalikan jiwaku setelah itu
tapi aku mampu menatapnya di kala tidur
di dalam kondisi temaram wajahnya, tersungging kedua bibirnya
terus aku bisikkan padanya
”sayang mungkin esok aku takkan kembali”

———————————–
bmi krpyk,140109;22.42wib
———————————–

the first serie’s

•January 19, 2009 • Leave a Comment

diatas bebatuan aku mengukir
dipermukaan air lautan aku menulis sebuah nama
aku benci dengan dia
hari ini kemarin atau mungkin tak tau sampai kapan
disela pergantian waktu aku pun mesti sudi menjadi patung dibalik gribik kamar ini
seperti dipingit
asing
maka percuma ada rasa
semua hanya dusta dalam katakata
atau mungkin
sematamata hanya permainan
—————————————————
diatas langit aku melukis
dikamarku aku merenung
tentang siapa aku?
aku makhluk
ataukah hanya sebagian makhluk
yang mengalir darah merah
putih
biru
atau hijau sekalipun
—————————————————-
dalam permukaan gribik aku menatap nasib dalam dalam
adakah kedamaian besok
atau akan kembali seperti sekarang atau kemarin
disela kemanjaanku bersama deretan anak kata
aku bercerita tentang hati
aku menangis karena sepi
tidak ada sedikit pun massa yang sudi menyentuhku dengan belaian lembut ucap
hanya seonggok harapan semata yang terbang bersama bayu
yang hanyut bersama ombak
—————————-
langit langit ini hidup
temaram bersama indahnya mutiara raksasa
daratan sepi dari sentuhan lembut para semut
hanya rerumputan yang terdiam dengan nafas kehidupannya
atau serangga yang bernyanyi suka cita bersama sesamanya
———————————
laut seperti tak lagi hendak menghadirkan ombak
darat layaknya penuh keramaian saat ini seperti kuburan
semua nampak nyata dalam dunia penuh maya maya
sekarang tinggal tunggu masanya aku meninggalkan semua rasa dan asa
kembali atau pergi dari semua yang menjadi impian selama ini
tak ada yang tahu
bahkan tahu pun tak tentu dia peduli dengan jiwa-jiwa yang hendak pergi ini
ibarat mesin, perasaku terus dipompa keluar bersama butiran-butiran cinta
namun tak ada yang mengerti kalau besok dia akan mati
dan kau kan merasakan betapa hampanya diriku tanpa dia
dan kau akan rasakan pula aku seperti patung yang tak berdaya
melihat deritamu hanya selayang pandang
atau mendengar pinta kasihmu hanya sekilas melayang
atau melihat dirimu pun hanya mampu membuatku takjub bahwa keindahan itu hanya sekejab dan tak mampu membuatku bahagia
cinta hanya ilusi
bahkan dia terus melayang-layang diatas batok kepalaku seperti peri
tapi tidak mampu ku gapai kembali
aku telah mati
mati
mati dari semua harapan
mati dari seluruh perasaan
terima kasih hati
gracius my lovely
karna esok aku tak lagi mencintai
—————————————————-
semua hanya bayang-bayang manja
yang mencoba membelah impian
dan menggapai harapan fana
hanya sebatas memberi sekuntum mawar
atau setangkai melati
namun tidak pernah hati ini menerima kembali
atau emisi yang keluar tak terganti dengan kasih yang sama persis seperti aku beri
semua hanya mata-mata rapuh
yang coba untuk diyakinkan dalam-dalam
bahwa semuanya terkadang hanya aku melulu yang memberi
tanpa tahu jika hati ini layu
atau sampai rapuh hingga terjatuh
jatuh
mati
—————————————————-
kata ini tak sanggup membayangkan duka yang kusimpan dalam peti mati
atau tak ada yang harus dimengerti
bahwa saat ini tugasku haya memberi dan terus memberi
sampai habis energi ini
dan mati
tanpa tak tersisa setetes pun hati
—————————————————–
hari tidak usah ada makanan yang kuberi kepadanya
tidak ada lagi pasokan energi
seperti kemarin disaat aku dianggap dewa olehnya
atau hanya ’say hello’ semata
tak usah lebih dari setitik noktah sekalipun
sebab rasa ini telah mati
sebab tak ada lagi pertemuan hati yang saling memberi
—————————————————
bunda
tidak ada lagi cinta untuknya
karena aku ingin mendarat dipelupuk mata mu
berurai air mata
mengeluh peluh
hingga tak lagi rahasia yang terselubung
bahwa aku sudah akan pergi dari petualangan cinta ini
aku ingin mati
—————————————————
ayah
aku ingin pulang
tidak ada yang ku lakukan lagi disini selain terluka
dan terus meninggalkan goresan luka semata
aku ingin pergi dalam alam fana
ingin bertemu saja dengan mereka yang hidup tanpa cinta seperti ku ini
ayah
ajarkan aku memberi tanpa meminta
meski sakit hati ini dirasa
walau menahan lebih perih dari merasakan
ayah
antarkan aku ke langit-langit surga
karena disana aku tidak lagi meminta apa yang ku harap kini
sebab aku telah menerima dari Dia
ayah
izinkan aku pergi dari sini
karena tidak ada yang mengerti
bahwa aku pun manusia
yang mesti mendapat pasokan cinta tanpa harus selalu kuminta padanya
bahwa aku bukan mesin
yang hanya memberinya energi untuk hidup mesti dengan sengaja kutekan paksa hati ini untuk sekedar membuatnya nyaman dalam selimut hangat yang kuberi
ayah
hari ini ku telah mati
mati sejak kemarin kemarin dan kemarin
bunda
ayah
hari ini ku tak ingin lagi menambah jahitan luka pada jiwa ini
atau biarkan saja dia bertambah lebar hingga virus-virus merusaknya dan membunuhnya
sampai aku tak mampu lagi mengeluarkan setetes pun cairan kehidupan
ayah
bunda
derai mata pun tak sanggup membuatku bangkit
atau canda pun hanya sepintas lalu
semua layaknya sandiwara yang sesaat pudar dengan sendirinya
ayah
bunda
aku ingin lepaskan semuanya
tanpa sedikit pun tersisa
residu sekalipun
aku ingin terbang seperti harapannya dulu untuk selalu terbang bebas seperti elang
aku disini terjepit oleh rasa
dan terkekang oleh asa
ayah
bunda
aku hanya mencintaimu
——————————

—————————————
krapyak,rabu,140109;11.49 wib
—————————————