suficinta

MANUSIA,KEBEBASAN,DAN AGAMA

Posted on: September 30, 2007

Sayyid Abdullah Ahmad al-Kahfi
(Student at Philosophy Faculty,Gadjah Mada University)
Yogyakarta, 04 Juni 2007

MUQADDIMAH
Manusia terdiri dari 2 unsur; fisik yang disebut raga,serta unsur yang bersifat immateriil yang disebut Ruh.Keduanya merupakan komposisi yang ideal dan sempurna yang telah Tuhan ciptakan. Manusia dianugrahi potensi yang tidak dimiliki makhluk lainnya yakni akal-fikiran,yang mampu membedakan antara manusia dengan bukan manusia. Manusia bukan ciptaan yang merupakan hasil evolusi genetik yang di fikirkan oleh Charles Darwin,namun manusia merupakan makhluk yang diciptakan tanpa harus mengalami proses seperti itu.

Manusia memiliki kebebasan sebagai hak yang melekat pada dirinya,kebebasan merupakan wujud eksistensi manusia didunia. Kebebasan menurut para kaum Libertarian dibagi menjadi dua yakni kebebasan privat dan publik. Sedangkan ahli dzikir (baca:agamawan) menyebut bahwa kebebasan manusia didunia ialah terbatas,dan dibatasi oleh aturan Tuhan.Meskipun begitu, yang jelas seluruh pakar sepakat bahwa manusia memiliki kebebasan dalam hidupnya.

Agama sebagai sebuah aturan Tuhan, yang teramktub dalam sebuah kitab suci,dan pemeluknya dinamakan umat beragama. Manusia seyogyanya merupakan umat beragama,lain halnya ketika dirinya memutuskan untuk tidak beragama. Sesungguhnya dalam hal ini,memang akan muncul sensitifitas pada diri manusia terkait agama yang dianutnya,meskipun penulis menganggap bahwa manusia yang beragama atau ber-Tuhan merupakan manusia yang utuh. Manusia yang sesuai fitrah. Perkara akan terjadi pluralisme beragama,sebenarnya merupakan salah satu konsekuensi logis saja

PEMBAHASAN
Manusia merupakan mahluk unik yang diciptakan didunia.Sudah cukup banyak para ahli yang melakukan penelitian terkait manusia dari proses perkembangannya,pola interaksi,hingga pada tataran manusia dan hubungannya dengan Tuhan.

Para sejarawan,yang berkutat pada suatu problematika religiusitas yang bila dihubungkan dengan manusia sebagai objek,memang cukup menarik untuk diamati.Para filsuf yang tak ketingggalan dalam melakukan perumusan dasar berdasarkan paradigma berfikir mereka,tentang manusia dan Tuhan,serta hubungan antara keduanya.

Sementara para agamawan yang juga sempat membuat suatu perumusan dasar yang diambil berdasarkan kitab sucinya masing-masing mencoba memaparkan hakekat manusia menurut Tuhan,bukan hanya menurut pandangan rasio semata. Disini Tuhan turut berperan dalam mendefinisikan manusia.Dan definisi itu merupakan sebuah definisi yang pasti,meskipun dengan beberapa tafsiran yang merupakan bentuk intrepretasi seseorang semata.

Agama menurut sebagian pemikir merupakan sebuah kondisi yang timbul akibat interaksi masyarakat yang terjadi,sementara menurut Geertz agama itu tidak terlepas dengan sistem budaya setempat,sehingga pengaruh agama sangat kental pada struktur masyarakat yang terjadi. Sementara Marx dengan mudahnya mengatakan bahwa agama merupakan sebuah sistem yang mengekang daya kreatifitas manusia,serta melakukan legalitas atas kedzaliman pada manusia didunia,seperti yang dilakukan oleh kaum borjuis kepada proletariat pada masyarakat Eropa,pada saat keemasan revolusi industri. Maka tak elak lagi,disaat agama merupakan candu yang mesti dibasmi dalam kehidupan manusia.

Meskipun pandangan ini masih cenderung moderat dibandingkan hasil konstruksi Nestzche terkait agama dan Tuhan,yang telah dinafikan secara besar-besaran dari jiwanya,nyaris tak ada tempat.

Pada zaman sekarang,apa yang menjadi peran penting agama dalam kehidupan umat manusia? Bagaimana seharusnya yang dilakukan manusia terhadap agama yang merupakan sebuah sistem yang dipercaya mampu menjadi ‘partner’ atau sistem yang berfungsi sebagai pengatur kehidupan manusia?

Manusia secara fitrah,mampu memperoleh apa yang diinginkannya melalui sebuah usaha atau perilaku yang timbul atas nalurinya, melalui pola interaksi dengan sesamanya,atau dunia lain yang berada diluar jangkauan akal.Manusia akan senantiasa membutuhkan itu.Seperti ketika seseorang merasa sangat kehausan,maka dia akan mencari sumber air yang mampu menghilangkan dahaga.Begitu pula agama,yang berperan sangat penting dalam eksistensi manusia didunia.Meskipun ada beberapa ahli fikir,yang sedikit menafikan hal itu.

Seperti yang dikemukakan oleh E.B Tylor terkait definisi agama sebagai sebuah keyakinan terhadap sesuatu yang spiritual.Sehingga menurutnya esensi dari agama,baik agama kuno maupun modern ialah kepercayaan terhadap sesuatu yang hidup dan punya kekuatan yang ada dibalik sesuatu.Menurutnya animisme merupakan bentuk kepercayaan tertua didunia. Agama itu tidak terlepas dengan unsur mistisisme,dan magis bagi agama purba yang berkembang ratusan tahun silam.

Dan juga menurut Sigmund Freud,seorang psikolog-filsuf atheis,menganggap agama merupakan sebuah bentuk takhayul,namun menarik. Dia memang seorang atheis tulen semasa hidup hingga matinya. Sesuatu yang transedental dianggapnya merupakan omong kosong yang tak berguna. Lebih ekstrim lagi dia menganggap bahwa agama akan menjadi penyakit syaraf yang mengganggu manusia sedunia,senada dengan Marx,bahwa agama adalah candu sosial.

Emil Durkheim,seorang sosiolog barat yang mencoba meneliti esensi agama sebagai sebuah sistem yang tak terpisahkan dalam kehidupan manusia,bahkan merupakan bagian integral dari kebudayaan (culture) masyarakat setempat. Menurutnya agama merupakan sistem kepercayaan dengan perilaku-perilaku yang utuh dan selalu dikaitkan dengan ’Yang Sakral’,yaitu sesuatu yang terpisah dan terlarang.Dalam hal dia memang cenderung lebih sopan dalam mendefinisikan agama, bersifat positif, serta tidak terburu-buru dalam menjustifikasi kegagalan peran agama dalam kehidupan manusia.

Agama merupakan kompleksitas sistem yang tegak diatas dokrin dan kepercayaan.Ajaran yang berwatak spiritual, supernatural, transeden, mistis, serta jauh dalam pembuktian klaim teoritis. Meskipun disisi lain,ada agama atau sistem kepercayaan tertentu yang mengalami kemajuan pesat dari segi kuantitatif,karena dinilai cukup logis dan ilmiah. Tapi disisi lain ada beberapa agama yang ’terpaksa’ berevolusi atau gugur dengan sendirinya karena tidak mampu menjawab realitas sosial kontemporer manusia modern.

Dari sini muncul sebuah study kritis perihal urgensi agama sebagai tata nilai kehidupan dengan manusia sebagai objek/pelaku kehidupan.
Manusia sebagai mahluk monodualistik menurut Prof.Dr.Notonegoro (Guru Besar Emiritus Filsafat UGM). Manusia sebagai mahluk hidup yang terdiri atas dua bagian yang mendasar yakni jasmaniah serta ruhiyah yang menyatu dalam satu kesatuan yang utuh. Semuanya saling membutuhkan,saling bersinergi, guna menghasilkan harmonisasi yang seimbang diantara keduanya. Dikarenakan mereka secara kodrati memang senantiasa menyatu,sebagai wujud eksistensi manusia didunia.Apabila salah satunya pergi atau mengalami kematian,maka yang terjadi ialah menusia yang tidak utuh kembali atau disebut mayat.

Manusia sebagai makhluk dwitunggal, merupakan sebuah pernyataan Prof.Dr.Driyarkara (Bapak Filsuf Nusantara), manusia terdiri atas roh dan materi, memang senada dengan Notonegoro, disisi lain masih menurut beliau bahwa, manusia menurut kodratnya merupakan makhluk pribadi (person), yang memandang yang lain, ”bukan pribadi”, sehingga disana akan muncul sebuah interaksi antara ”Aku-Engkau”, dan bersifat percaya saling mempercayai. Keluhuran manusia sebagai pribadi adalah terletak pada kedaulatan atas diri sendiri (Driyarkara tentang Manusia:33).

Sementara dengan kebebasan manusia yang sampai saat ini masih cukup banyak diperdebatkan oleh para ahli fikir bahkan ahli dzikir (baca:agamawan) pun mulai mempertanyakan kembali,hakekat kebebasan pada diri manusia, bahwa sejauh mana sebenarnya manusia memiliki kebebasan/kemerdekaan? Apa makna kebebasan/kemerdekaan,itu sesungguhnya?

Kebebasan merupakan sebuah tindakan atau perbuatan yang muncul atau bermula dari kehendak untuk melakukan. Sementara menurut Prof.Dr Driyarkara,seorang filsuf Indonesia kontemporer,menulis dalam bukunya bahwa kemerdekaaan atau kebebasan merupakan kekuasaan untuk menentukan diri sendiri untuk berbuat atau tidak berbuat (Driyarkara tentang Manusia:60).

Kebebasan merupakan hak individu untuk menggunakannya atau tidak, tidak ada seorang pun yang mampu untuk memaksa seseorang terkait kebebasan yang dimilikinya. Manusia memiliki sebuah kemauan serta dorongan untuk melakukan,sehingga kebebasan muncul dari kedua hal itu. Sebagai contoh riil, ketika seorang yang bertumbuh gemuk,dia memiliki kemauan untuk kurus,maka akan tercipta dorongan untuk mengurangi jatah makannya sehari itu.Disanalah muncul kebebasan dia untuk melakukan hal itu.Atau ketika ada pasangan hidup memiliki keinginan untuk memiliki anak lebih dari dua,maka disana akan muncul dorongan untuk berusaha,dan disana pastilah muncul kebebasan diantara keduanya untuk meiliki anak dengan jumklah tiga atau enam sekalipun,asalkan akan muncul sebelumnya kesepakatan diantara keduanya.

Kebebasan merupakan hal mendasar yang dimiliki manusia selaku insan berakal. Suatu kebebasan akan berbanding lurus dengan tanggung jawab yang akan diterima oleh dirinya secara pribadi maupun kelompok. Maka,sebenarnya manusia dituntut untuk berfikir sebelum bertindak,sebagai usaha untuk meminimalisir resiko yang terjadi akibat salah dalam menggunakan hak kebebasan yang dia miliki. Sesungguhnya,cukup banyak para filsuf modern maupun kontemporer dalam mendiskusikan masalah kebebasan pada diri manusia.Keseluruhannya memiliki paradigma berfikir yang berbeda. Perbedaan yang mendasar akan tercipta manakala definisi kebebasan versi Liberaterianisme dengan kebebasan versi Marxisme-Leninisme,namun dikala kedua aliran tersebut coba dibenturkan dengan para ahli dzikir (baca:agamawan) maka akan lebih nampak jelas perbedaan yang sangat signifikan.

Kaum Liberaterian, lebih membagi kebebasan privasi dengan publik,yang diantara keduanya mestilah jelas terdefinisi,tidak bias. Sementara kaum Marxisme-Leninisme,lebih memandang kebebasan dari sudut pembagian kelas antara kaum borjuis dengan kaum proletariat,menurut mereka sudah saatnya proletariat memiliki kebebasan yang sama dengan kaum borjuis sehingga kelak, akan memunculkan kondisi tanpa kelas. Lain halnya dengan para ahli dzikir yang memandang kebebasan berdasarkan definisi kitab suci yang mereka miliki.Umumnya mereka memandang bahwasanya tidak ada kebebasan mutlak pada diri manusia didunia ini,karena manusia hidup didunia senantiasa terikat oleh aturan Tuhan yang absolut,yang termanifestasi pada intitusi agama,sebagai badan eksekutif serta yudikatif atas aturan Tuhan.

Pada abad pertengahan,nampak jelas aturan Tuhan menjadi bagian yang tak terpisahkan dengan tata kehidupan manusia didunia.Terlihat jelas dominasi Gereja sebagai institusi resmi dan terpusat agamawan Nasrani,memiliki ototritas penuh atas politik pemerintahan kala itu. Sedangkan Islam memiliki sistem Khilafah Islamiyah, sebagai sebuah bentuk pemerintahan yang melaksanakan syariat ilahi, dan disana tidak ada lembaga legislatif, dikarenakan kedaulatan ada pada kuasa Tuhan.

Memang muncul perbedaan yang mendasar diantara keduanya,namun disana sebenarnya dapat ditarik sebuah kesimpulan bahwa aturan kala itu benar-benar dijadikan konstitusi pokok atas sistem politik oleh para penguasa,sebelum akhirnya mulai terjadi pemberontakan untuk mengganti sistem aturan Tuhan yang dinilai terlalu teokratis dengan bentuk yang lebih demokratis,dengan kebebasan sebagai bagian yang tak terpisahkan dalam hal ini.
Manusia sebagai makhluk yang memiliki kesadaran serta fitrah untuk ber-Tuhan serta beragama/berkepercayaan,sebenarnya secara sadar pula dia menganggap bahwa kebebasan penuh pada dirinya telah dikorbankan setengah,disebabkan aturan Tuhan yang membatasi hal itu.Dirinya pastilah merasa bahwa segala perilaku,serta tindakan selama didunia akan senantiasa diawasi oleh Tuhan,dan disanalah sesungguhnya memunculkan kesadaran bahwa kebebasan penuh merupakan sesuatu yang mustahil dimiliki manusia.

Kondisi seperti itu sebenarnya merupakan sesuatu yang logis. Manusia akan lebih menyadari bahwa akan muncul akibat atas kebebasan yang kelak dia coba gunakan,seperti: sebenarnya manusia memiliki kebebasan untuk bunuh diri,tapi disatu sisi resiko atau balasan apa yang kelak dia akan terima atas perbuatannya itu. Maka disana akan terbersit sebuah kondisi dimana mulai mengenal alam akherat. Kebebasan manusia sesungguhnya akan berimplikasi pada kehidupannya dialam akherat,itulah prinsip manusia beragama.

Peran agama sangatlah penting dalam tindakan dan perilaku manusia didunia.Tidak lain dan tidak bukan,secara langsung agama akan mempengaruhi manusia dalam setiap langkah dan ucapnya. Kebebasan disini menjadi sesuatu yang tidak terlalu banyak dituntut dikarenakan manusia memiliki sebuah keyakinan yang mendasar bahwa hidup ini tidak kekal. Manusia modern sebenarnya mulai membutuhkan peran agama kembali sebagai sesuatu yang penting dan mencerahkan.Meskipun tidak sedikit manusia yang melarikan diri dari pengaruh agama,bahkan harus rela keluar dari agamanya hanya karena mencari segengam kebebasan semu yang hendak dia miliki.

Pada dirinya akan merasa disaat setelah lepas,maka kebebasan itu akan diperoleh lebih banyak dan tidak terlalu disibukkan dengan problematika agama maupun aturan-aturan dogmatis lainnya,yang bersifat absolut. Disini sebenarnya,memunculkan sebuah pertanyaan mendasar,bahwa benarkah dirinya seorang manusia yang utuh?Karena penulis disini sepakat bahwa sesungguhnya manusia memiliki fitrah untuk beragama atau sekalipun dia hanya memiliki kepercayaan kepada ”Yang Sakral”(meminjam istilah Durkheim) sekalipun. Banyak faktor memang disaat sebagian manusia mesti keluar dari agama atau kita sebut atheis,bisa jadi manusia merasa trauma secara psikologis atau merasa kecewa dengan keputusan Tuhan (Takdir), manusia merasa puas dengan hasil penemuannya yang merasa bahwa Tuhan tidak turut campur sama sekali dalam hal ini,sehingga ia berani untuk keluar dari komunitas orang yang ber-Tuhan dan otomatis tak ber-agama. Dan masih banyak lagi.

Manusia, beserta kebebasannya dan agama sebagai sebuah aturan dalam tata kehidupan didunia,sesungguhnya merupakan komposisi yang utuh pada setiap individu manusia. Gerak dan tindakan manusia merupakan kebebasan yang menjadi haknya, namun disisi lain agama akan berperan penting dalam mempengaruhi kebebasan manusia tersebut. Manusia yang bijak ialah disaat dirinya telah mampu untuk berfikir logis terhadap urgensi dan korelasi positif agama dalam kehidupan sehari-hari,bukan hanya menilai agama dari prilaku-perilaku individu yang lain,namun ajaran-ajaran yang termaktub dalam kitab suci merupakan bagian yang pokok dalam memahami esensi dan urgensi agama bagi manusia.

Kehidupan manusia sesungguhnya akan bernilai tinggi disaat manusia mampu memahami tentang hidup.Mencoba memahami tentang hakekat manusia tidak hanya bertanya kepada ahli fikir semata,namun disamping telah menunggu para ahli dzikir yang lebih mampu untuk memberikan pemahaman terkait hakekat atau hikmah yang terkandung pada dirinya selaku manusia yang berakal serta kehidupan yang menjadi bagian yang penting. Menjadikan potensi yang dimiliki manusia berupa kebebasan menjadi sarana untuk menggapai sebuah pemahaman positif tentang Tuhan, agama, serta kehidupan.

REFERENSI
 Dekonstruksi Kebenaran.Daniel L.Pals
 Driyarkara tentang Manusia.Prof.Driyarkara.Yayasan Kanisius
 Manusia Pascamodern,Semesta,dan Tuhan. Y.B Mangunwijaya. Kanisius

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: