suficinta

I’tikaf Ramadhan

Posted on: October 4, 2007

I’tikaf ialah berdiam diri di dalam masjid dengan niat tertentu untuk keta’atan keadaan Allah Subhaanahui wa Ta’ala. I’tikaf diperintahkan dalam agama Islam menurut ijma’ ulama. Imam Ahmad mengatakan dalam riwayat Abu Dawud. “Aku tidak mengetahui hukum I’tikaf menurut ahli ilmu melainkan ia adalah disunnahkan”.

Diriwayatkan juga bahwa Imam Malik pernah berkata, “Aku memikirkan tentang I’tikaf ini beserta dalilnya, namun kaum Muslimin banhyak meninggalkannya meskipun Rasul Shallalahu ‘Alaihi wa Sallam tidak pernah meninggalkannya. Mereka meninggalkannya karena karena mereka berat melaksanakannya”. Beliau juga berkata, “Aku tidak mengetahui seorang pun dari kalangan ‘ulama salaf yang mewajibkan I’tikaf kecuali Abu Bakar bin Abdurrahman”.

Menurut pendapat Imam Malik bahwa telah diriwayatkan dari sekelompok ‘ulama salaf, bahwa mereka semua melakukan I’tikaf. Imam Az-Zuhry berkata, “Aku heran sekali terhadap kaum Muslimin, mereka meninggalkan I’tikaf sementara Nabi Shallalahu ‘Alaihi wa Sallam tidak pernah meninggalkan semenjak beliau datang ke Madinah hingga wafat”.
Rahasia I’tikaf

Setiap ibadah pasti mempunyai rahasia dan hikmah tersendiri, karena ruang lingkupnya adalah hati manusia. Rasulullah bersabda; “Ingatlah di dalam tubuh ini ada segumpal daging, jika ia baik maka baiklah seluruh tubuh dan jika ia buruk maka buruklah seluruh tubuh, ingatlah itu adalah hati”.

Perusak hati yang paling besar adalah bersenda gurau, bermain-main dan kesibukkan yang melengahkan seseorang dari mengendap Allah semata, seperti nafsu untuk makan, minum, jima’, banyak ngobrol dan banyak tidur. Maka Allah Subhaanahui wa Ta’la mensyari’atkan puasa agar manusia menahan diri dari makan, minum, dan jima’ pada siang hari Ramadhan. Karena menahan diri seperti itu dapat melawan atau mengurangi banyaknya kesenangan bagi hati, lalu menjadi kokohlah dalam menempuh perjalanan menuju Allah SWT dan terbebas dari jeratan nafsu syahwat.
Dengan I’tikaf hati terpelihara dari banyak berbicara (mengobrol), karena orang melakukan I’tikaf berdiam diri sambil berzikir, membaca Al-Qur’an, melakukan qiyamullail, dan berdoa. I’tikaf juga dapat menjauhkan diri dari banyak tidur, karena masjid yang dipergunakan untuk beri’tikaf tidaklah boleh dipakai untuk tidur.

Kapan kita bisa melakukan I’tikaf?. Nabi Muhammad SAW melakukan I’tikaf sejak malam sepeuluh pertama bulan Ramadhan, kemudian pada sepuluh malam ketiga bulan Ramadhan untuk mencari Lailatul Qadar. Lalu nyata bagi beliau bahwa Lailatul Qadar itu turun pada sepuluh terakhir bulan Ramadhan.

Setelah itu, Rasulullah SAW melakukan I’tikaf pada setiap sepuluh malam terakhir di bulan Ramadhan, sebagaimana terdapat dalam Shahinh Nukhari Muslim dari Aisyah Radhiyallahu ‘Anhu bahwasanya Nabi Shallalahu ‘Alaihi wa Sallam melakukan I’tikaf pada sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan hingga beliau wafat. Setelah beliau wafat istri-istri beliau tetap melakukan I’tikaf pada sepuluh terakhir bulan Ramadhan itu. Pada tahun yang beliau wafat itu, beliau melakukan I’tikaf selama dua puluh hari atau sepuluh malam kedua dan sepuluh malam terakhir dari bulan Ramadhan. Hal ini dilakukan karena beberapa sebab:
1. Jibril Alaihissalam melakukan sima’an Al-Qur’an bersama Nabi SAW pada tahun itu sebanyak dua kali, berarti dua puluh hari I’tikaf beliau dibagi dua yaitu setiap sepuluh hari menyelesaikan satu kali khataman bersama jibril.
2. Beliau SAW ingin melipatgandakan amal shalih dan menambah keta’atan karena merasa bahwa ‘ajal beliau sudah dekat.
Beberapa himbauan seputar I’tikaf
1. Ada pendapat yang mengatakan bahwa I’tikaf itu harus di salah satu dari tiga masjid yaitu Masjidil Haram, Masjidil Nabawi, dan Masjid Al-Aqsha. Tapi menurut Salman bin Fahd al Audah dalam bukunya Duruusu Ramadhan (yang berarti renungan Ramadhan) yang benar kita boleh dilakukan masijd mana pun yang di dalamnya didirikan shalat fardhu.
2. Sebagian orang menganggap I’tikaf itu sebagai kesempatan hidup menyendiri. Pendapat ini jelas salah sebab I’tikaf itu boleh saja dilakukan secara bersama-sama (kolektif) di masjid. Yang dilarang adalah melakukan I’tikaf demi agar bisa bergabung bercengkerama atau ngobrol.
Akhirnya, marilah kita isi malam-malam di bulan mulia ini dengan berI’tikaf di masjid-masjid agar kita bisa mendapatkan kemuliaan Ramadhan dari Allah Azza wa Jalla, amin…

Sumber : http://forum.transtv.co.id/ 04 Oktober 2007
Artikel Ustadz Jefri Al Bukhori
http://www.ujecentre.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: