suficinta

poerwa-sair

Posted on: February 4, 2008

bening I 31.01.07/22.01.29
bening
menyerupa air yang mengalir
bersatu bersama rangkai makna
yang bersemayam dalam kata
ketika kujumpa dia dalam sapa dan prakata-prakata
disaat kutemu dia dalam satu perjamuan kudus
disiram mutiara-mutiara surga yang berjatuhan
bersama dingin yang menjadi selimut
apa yang kita lakukan
tak lain hanya sebuah sejarah
tak lain hanya sebuah perjalanan semata
tak lain hanya sebatas rangkaian cerita dalam prilaku hidup manusia
bening…
entah esok apa aku masih dapat melihatnya dalam nuansa yang berbeda
atau tidak sama sekali

bening II 31.01.07/22.01.29
bening
membersamai dia dalam kondisi
dan situasi yang kukenal saat ini
bening apa yang membuatnya tak lagi menjadi bening
seperti kaca atau memang kaca dia itu
aku pertama mengenalnya dalam lingkup nuansa mutiara-mutiara yang berlarian kebumi
disana kita berkata dalam fenomena
disana aku bertingkah dalam realita
atau aku memang mimpi
inilah lukisan atau sekedar tulisan atau tak lebih dari perjalanan dunia
disaat ku tumbuh diatas serba sandiwara
berdiri tegak diatas impian-impian teleologis

bening dalam sebuah wajan 31.01.07/22.01.29
bening dalam sebuah wajan
tergeletak sambil berdiri berbaris bersama pesan-pesannya
berkata bersama nuansa
menyapa dengan sejuknya dada dan mata
bening dalam sebuah wajan
dia bertingkah mesti tak kasat
dia berucap mesti tak terlihat
dia bergerak mesti tak nampak
bening dalam sebuah karya
di berjalan teriring nuansa
bersama saya dan fakta yang saat ini masih bersemayam dalam dada
entah,,,,,
esok masih dapat
atau sudah saja sampai disini

dia dalam wajan 31.01.07/22.01.29
aku menemukannya dalam wajanku
dia menaruh prakata awal didalamnya
aku tak paham siapa dia
barangkali hanya permata yang dilempar sementara oleh maha
atau barangkali bidari yang hanya sekedar menari disaat nuansa tak lagi berarti
barangkali pula dia hanya sesaat seperti bayu yang lewat sepintas
dia hanya kutemukan dalam wajan
yang setelah itu kutemukan dia dalam dunia maya tanpa prakata
hanya dia dalam fragmen diri
ada kata v atau i atau a barangkali aku salah dengan itu
atau sekedar merangkai rumus kehidupan belaka
dari sana sekedar permulaan semata
apa yang kemudian terjadi maka terjadilah semua
tak mampu yang menghalangiku biarpun maharaja
kecuali Dia
perjamuan dalam rintihan mutiara indah yang berjatuhan
diatas permukaan penuh dengan kemiskinan dan pengharapan
diluar sana sambutan mereka begitu meriah
hingga tak sadar bahwa dihadapan ini ada seuntai permata dalam balutan warna kesucian
apa yang kutahu tentangnya tak lebih dia mengetahuiku
seperti waktu dan serasa berjalan dalam awan
dia berada didepan mata
dia yang muncul dalam wajan tiba-tiba terasa berada dalam dunia nyata
bersama seorang yang anti untuk mengulurkan tangannya
tiba-tiba polosnya mengalir didepanku bersama kedua tangannya yang mencoba menyapa
disana bersama keluguannya aku menyapa bersama tanda seperti dia
sadar memang tapi itulah kehidupan aku rasa itu hanya sebuah tanda
dia tidak lagi dalam wajan bersama kawan pembawa pesan
melainkan disinilah dia saat ini bersama seluruh aura
mungkin dalam setiap kesempatan tak ada lagi yang namanya pertemuan
hingga aku tak lagi mengenalnya
sebuah fase yang tentunya akan dialami bersama seluruh mahkluk yang selama ini mengenal dunia
aku menganggapnya bersama kawan setiaku menganggap semua hanyalah ilusi yang bermakna
entah..sampai kapan dia mencoba mengusikku dalam proses pencarianNya
semua hanyalah sebuah karya yang juga akan berulang dalam setiap kesempatan
bersama selain dia dalam wajan
bersama dia-dia yang juga bisa kukenal dalam wajan atau pertemuan
dia hanyalah cahaya,sebagian cahaya yang coba kuraih dengan cinta dan hikmah
karna saat ini hanya itu senjata ampuh yang kugunakan untuk menghapus rasa sakitku kalau besok aku tak lagi seperti ini
awal dengan cinta tengah dan akhir berkatalah hikmah dihadapan penguasa diri
ada kata v atau i atau a barangkali aku salah
namun itulah adanya

muncul 01.02.08/23.01.29
muncul menjadi kerabat
bagian tentunya
apa yang berkehendak menjadikan dia seperti unsur hidupku kelak
atau barangkali hanya untuk satu saat saja
besok aku tak lagi mengenalnya dalam nuansa berbeda
dunia memang sandiwara
seperti halnya kita yang hanya bersenda gurau dalam tanya
tentunya penuh tanya jika memang hati dan kepala mampu terbuka dan merasuki dunia yang tak lain
hanya sebatas naskah-naskah mahfudz

kaca 01.02.08/23.01.29
muncul pula kaca
yang sebelumnya kutemukan bersama tangan orang lain
atau barangkali aku mengambilnya tanpa sepengetahuan kawanku itu
dia hidup seolah membersamai misi
dalam balutan yang tak kukenal sebelumnya
kaca yang belum sempat kutanyakan
dalam kondisi apa kau mengalami kekeruhan jiwa?
sehingga aku yang tak mampu membersihkan atau hanya sekedar mengusap sekelebat debu yang hinggap
akan menghindar sementara hingga bening kembali dengan sendirinya
atau barangkali oleh orang lain yang lebih pantas
dalam nuansa dia seperti selalu saja membuat tawa
dalam setiap kesempatan dia acapkali menarik kepenatan sementara
mungkin aku saja yang sok seperti mengenal siapa kaca
padahal dibalik kaca tersimpan tanya yang serba
dibalik serba terselip pertanda yang tidak tahu dimana muara
kaca
dalam bingkai figura
dalam nuansa penuh pertanda
kaca
dia hanya sekedar kaca yang tak kukenal selamanya
kaca yang terpasang dalam-dalam memori sementara sudah itu sirna nersma ada-ada yang senantiasa muncul disetiap perjalanan raga maupun jiwa
kaca
kemungkinan hanya sebagian kecil pertanda kuasa yang hendak mengecohku guna perjalananku menuju kuasa dan sang ada
kaca
kau bukan selamanya bersama mata dada kepala apalagi masa
besok kau masih adakah bersama itu semua?
kalau bukan berdasar kehendak dan ketetapan kuasa
semua akan menghilang seperti pasir dalam karang
atau butiran lembut yang hinggap dipermukaan lensa
hilang bersama masa

masa-masa 01.02.08/23.01.29
sekarang masanya sama
sama meskipun beda saja
sama seperti sedia kala
sama layaknya cinta
berbeda diatas nuansa
berjalan menapaki realita
bertepuk-tepuk ria bersama wanita kadang pria
sudah masanya barangkali aku diam dari semua
berjalan hanya satu titik tujuan
dengan seluruh nuansa yang berdiri tegak atas ruh cinta dan idealita
masanya bukan seperti sma
atau menengah pertama yang sempat bersama sepotong cinta
juga sma yang berhasil terlepas dari jeratan cinta
masa-masa dalam balutan peristiwa dan sejarah kehidupan
perjalanan yang melelahkan
yang kadang hanya bermain disekitar muara itu-itu saja
kadang pula tidak pernah muncul sebuah pertanya
untuk apa aku disini berdiri diatas masa yang selalu berjalan menuju sebuah penantian dengan liku-liku yang lembut namun berduri
bersama liku-liku yang kasar namun menyenangkan
apa yang terjadi?
kalau semua paham tentang masa
maka dialah yang berjasa mempertemukan kita dengan maha
atau sekedar memperkenalkan kita dengan-nya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: