suficinta

BUAH FIKIR KOHLBERG BAGI FILSAFAT MORAL

Posted on: April 7, 2008

Mengenai Lawrence Kohlberg.
Dia dilahirkan pada 25 Oktober 1927 di Bronxeville (New York), sebagai seorang anak pengusaha kaya. Dimana dimasa kanak-kanaknya hingga proses pendidikannya sangat dinikmati secara istimewa. Tetapi karakter khas Kohlberg yang cenderung keras dan berprinsip untuk lebih memilih kehidupannya secara mandiri. Hingga dia pun dengan sadar mengikuti pelayaran sekelompok Zionist (Haganah) yang menyelundupkan kaum Yahudi atas pelariannya dari Eropa ke Israel. Kemudian kapal tersebut tertawan oleh tentara Inggris yang kemudian para awak hingga penumpangnya terpaksa untuk ditahan, tak terkecuali Kohlberg sendiri. Namun disuatu kondisi, dia dapat melarikan diri dari kamp tahanan itu, dengan bantuan kapal Amerika untuk kembali kesana. Setelah samapai disana, Kohlberg mencoba melamar di Universitas Chicago, dan akhirnya diterima hingga gelar Doctoralnya berhasil diraih pada 1958. Kohlberg diangkat menjadi Guru Besar di Universitas Yale, dan mengajar disana hingga 1961. Pada tahun 1963, ia kembali ke almamernya yang kemudian membentuk “Child Psychology Training Program”. Dalam pengalamannya menjadi pengajar, Kohlberg lebih banyak menuntut kepada mahasiswanya untuk membaca pelbagai karya klasik para filsuf, seperti; Republik dari Plato, Moral Education karya Emile Durkheim, Moral Judgement of the Child, dan Democracy and Education dari John Dewey. Tahun 1967, Kohlberg diangkat menjadi professor di Universitas Harvard, Cambrige, USA. Disana dia membentuk “Centre for Moral Development and Education”. Sejak tahun 1971, Kohlberg secara praktis terlibat langsung dan intensif dalam proses penelitian bersama rekan-rekannya. Sehingga ia mampu menelurkan sebuah konsep “pendidikan tersamar”, dimana konsep pendidikan moral secara tidak langsung yang ditanamkan oleh para guru dan pendidik atas tingkah laku mereka terhadap anak didik. Internalisasi nilai secara tersembunyi dalam setiap tindakan.

Pada Desember 1973, Sebuah kecelakaan yang mempengaruhi kehidupannya dimasa akan dating. Penyakit tropis, yang menyerangnya disaat proses penelitiannya yang dia lakukan di Amerika Tengah. Hingga, Kohlberg harus menerima suatu kondisi, dimana rasa sakit, ketidakberdayaan, hingga pada tahap depresi melanda kehidupannya selama 13 tahun. Depresi telah mempengaruhi kehidupannya sejak proses pencariannya terkait masa depan, semenjak pelariannya dari rumah menuju ruang kebebasan, dan diperkuat oleh penyakit yang dia alami. Puncaknya, kondisi tersebut membuatnya benar-benar depresi, hingga kehidupannya didunia mesti dibayar dengan mengakhiri hidupnya disungai dengan cara bunuh diri. Pada tanggal 17 Januari 1987, polisi menemukan ‘volkswagen’ Kohlberg yang terparkir didekat rawa di Boston.Dan disana pula kondisi tubuh Kohlberg yang mati mengenaskan, berhasil ditemukan. Sebelumnya berdasarkan informasi dari kerabat dekatnya, bahwa Kohlberg sengaja membenamkan dirinya dalam air sebagai sebuah pertanda bahwa dia merasa menemukan kedamaian, ketenangan hidup serta Yang Ilahi pada air.

Buah Fikir dan Karya.
Kehidupan dan perjalan pencarian ilmu, Kohlberg mendapat pengaruh cukup signifikan dari beberapa ilmuwan, baik dari tataran psikologi, sosiologi, hingga antropologi saat itu. Pengaruh mazhab behaviorisme dan psikoanalisis Freud saat itu di Amerika, sangat mempengaruhi pula pemikirannya kedepan. Jean Pieget, merupakan guru yang berpengaruh besar dalam proses pembentukan tahap perkembangan moral Kohlberg. Sebenarnya Kohlberg seperti melakukan sedikit tambal-sulam pada pemikiran Jean Pieget atas kaidah perkembangan moralnya, sehingga lebih lengkap dan kompleks. Sebelum Kohlberg, Jean Pieget telah mencetuskan 5 tahap perkembangan moral, menurut Romo Magnis, yang coba saya persingkat; pramoral, orientasi aturan normatif (belum pada kewajiban), orientasi kewajiban atas kepatuhannya pada aturan dan hukum, proses otonomi moral, dan tindakan moral reflektif. (Franz Magnis-Suseno;2004), sedangkan dalam buku lainnya Pieget hanya mencetuskan 3 tahap saja yang kemudian dikembangkan Kohlberg,yakni; tahap ‘pramoral’ ditandai anak belum menyadari akan keterikatannya terhadap aturan, tahap ‘konvensional’ dicirikan pada ketaatan pada kekuasaan, dan tahap ‘otonom’ bersifat keterikatan pada aturan yang didasarkan pada resiprositas, sebelumnya pun, John Dewey, telah mencetuskan 3 tahap perkembangan moral seorang remaja; tahap pramoral, tahap konvensional, dan tahap otonom (Tahap-tahap Perkembangan Moral, Lawrence Kohlberg:1995).

Sigmund Freud yang salah seorang tokoh yang juga paling berpengaruh, mencoba membagi potensi pada diri manusia, yakni; Id, ego, dan superego (dalam bahasa Jerman; Es, Ich, Ueberich). Menurutnya moralitas merupakan sebuah proses penyesuaian antara Id, ego, dan superego. Freud mengatakan bahwa Id dipengaruhi oleh “prinsip kesenangan”(the pleasure principles). (K. Bertens;2005). Superego sendiri dapat dikatakan sebagai hati sanubari. Disini sebenarnya ada semacam saling melengkapi antara pemikiran Pieget, Freud, dan Kohlberg. Freud yang cenderung pada proses penyeimbangan psikologis seseorang dalam proses perkembangan moral, kemudian hari dilengkapi dengan Pieget yang lebih pada peningkatan rasionalitas dan oleh Kohlberg ditambah dengan intelektualitas seseorang, serta kecepatannya dalam melakukan loncatan-loncatan atas 6 tahap perkembangan moral. Kohlberg seperti sedikit menafikan peran agama dan institusi agama dalam pengaruhnya pada prinsip moral seseorang bahkan perkembangan moral sekalipun, bahkan dia mengklaim bahwasanya agama dalam hal ini tidak berpengaruh. Pada proses penelitian empirisnya, Kohlberg mencoba membandingkan antara yang beragama Kristen, Islam, Budha, Yahudi, dengan Atheis. Nilai-nilai moral anak dalam bidang agama tampaknya berkembang melewati tahap-tahap yang sama seperti nilai-nilai umum mereka. (Tahap-tahap Perkembangan Moral, Lawrence Kohlberg:1995).

Sekarang secara sederhana kita mencoba untuk melukiskan proses penelitian Kohlberg, bersama rekan-rekannya. Dimana suatu kondisi mereka memberikan beberapa pertanyaan kepada responden anak-anak hingga remaja. Pertanyaan yang mengandung dilema khayalan menurut K. Bertens, dalam bukunya “Etika”, dimana “khayalan” merupakan sebuah kondisi abstrak, bukan peristiwa konkret. Pertanyaan yang yang diutarakan mengandung 2 titik berat, yakni; isi jawaban, dan dasar-dasar ‘ilmiah’ atas jawaban tersebut, atau dapat disebut isi jawaban dan struktur yang mendasari atas jawaban tersebut.

Dalam proses mewujudkan tahap perkembangan moralnya, setidaknya Kohlberg telah mengalami 3 tahap pemikiran yang sarat dipengaruhi oleh John Dewey, Baldwin, Jean Pieget, dan Emile Durkheim.
1. Periode pertama, tahun 1958-1970. Dimana Kohlberg mengembangkan pendekatan kognitif-developmental. Disini dia berhasil menelurkan karyanya: “Stage and Sequence” (1969).
2. Periode kedua, tahun 1970-1976. Kohlberg disini mengkonsentrasikan pemikirannya pada pengembangan strukturalisme Pieget dengan konsekuen penerapannya pada perkembangan longitudinal individu. Pada periode dia mencoba untuk melakukan ‘revisi’ atas karya sebelumnya dan munculah,”Moral Stage and Moralization” (1976).
3. Periode ketiga, 1975- hingga wafatnya (1987). Kohlberg mencirikan pemikirannya pada peralihan ‘nauralistis’ terhadap ‘tindakan moral’ dalam konteks kelompok atau ‘suasana moral’ yang terlembaga. Kritiknya atas penjelasan yang sosiologis-irasional Durkheim yang kemudian ditarik kembali, secara tidak langsung dia terpengaruh atas itu, dan menjadi ilham baru atas pemikirannya mengenai ‘suasana moral’. Pada periode ini Kohlberg mengeluarkan karyanya yang berjudul “The Moral Atmosphere of High School: A Comparative Study” (1984).(Tahap-tahap Perkembangan Moral,Lawrence Kohlberg:1995).

Pada tahun 1960-1970 Kohlberg mulai melakukan pematangan atas paradigm baru didunia psikologi yang dia cetuskan berdasarkan hasil penelitian empirisnya bernama teori kognitif-developmental-nya. Teori kognitif-developmental menegaskan bahwa pada intinya moralitas mewakili seperangkat pertimbangan dan putusan rasional yang berlaku untuk setiap kebudayaan, yairu prinsip kesejahteraan manusia dan prinsip keadilan. (Tahap-tahap Perkembangan Moral, Lawrence Kohlberg:1995). Menurut Kohlberg bahwasanya prinsip keadilan merupakan komponen pokok dalam proses perkembangan moral yang kemudian diterapkan dalam proses pendidikan moral.

Adapun buah pemikiran Lawrence Kohlberg mengenai 3 tingkat dan 6 tahap perkembangan moral manusia, menurut Prof. Dr. K. Bertens dalam bukunya “Etika”, yang kemudian menjadi sebuah teori moral yang mempengaruhi dunia psikologi dan filsafat moral atau etika, yakni:

1. Tingkat Pra-konvensional
a. Tahap orientasi hukuman dan kepatuhan,
Pada tahap ini anak dalam hal melakukan suatu tindakan akan memiliki orientasi atas hukuman yang merupakan konsekuensi atas tindakan itu, serta kepatuhan dari seseorang dalam hal ini orang yang dituakan atau kepatuhan terhadap hukum.

b. Tahap orientasi relativis-instrumental.
Pada tahap anak tetap menilai sesuatu berdasarkan kemanfaatan, kesenangan, atau sesuatu yang buruk menjadi keburukan, namun disini si anak sudah mampu belajar memperhatikan harapan dan kepentingan orang lain.

2. Tingkat Konvensial
c. Tahap penyesuaian dengan kelompok atau orientasi untuk menjadi “anak manis”.
Pada tahap selanjutnya, terjadi sebuah proses perkembangan kearas sosialitas dan moralitas kelompok. Kesadaran dan kepedulian atas kelompok akrab, serta tercipta sebuah penilaian akan dirinya dihadapan komunitas/kelompok.

d. Tahap orientasi hukum dan ketertiban.
Pada kondisi ini dimana seseorang sudah mulai beranjak pada orientasi hukum legal/peraturan yang berfungsi untuk menciptakan kondisi yang tertib dan nyaman dalam kelompok/komunitas.

3. Tingkat Pasca-konvensional
e. Orientasi kontrak-sosial legalistik
Tahap ini merupakan suatu kondisi dimana penekanan terhadap hak dan kewajiban cukup ditekankan,sehingga proses demokratisasi terjadi.Pada tahap ini juga muncul sebuah sikap cinta tanah air dan pemerintahan yang berdaulat.

f. Orientasi prinsip etika universal.
Pada situasi ini dimana orang dalam melakukan tindakan mencoba untuk sesuai dengan nurani serta prinsip-prinsip moral universal. Adapaun syarat atas prinsip moral universal menurut Kohlberg, yakni: komprehensif, universal, dan konsisten (tidak ada kontradiksi dalam penerapannya). Sedangkan prinsip universal itu ialah keadilan, prinsip perlakuan timbal balik (reciprositas), kesamaan, dan penghormatan terhadap martabat manusia. (Tahap-tahap Perkembangan Moral, Lawrence Kohlberg:1995).

Perkembangan moral Kohlberg memiliki sifat/karakter khusus, diantaranya:
• Perkembangan setiap tahap-tahap selalu berlangsung dengan cara yang sama, dalam arti si anak dari tahap pertama berlanjut ke tahap kedua.
• Bahwa orang (anak) hanya dapat mengerti penalaran moral satu tahap diatas tahap dimana ia berada.
• Bahwa orang secara kognitif memiliki ketertarikan pada cara berfikir satu tahap diatas tahapnya sendiri.(K.Bertens;2005).

Kohlberg menekankan pada pendidikan moral yang menggunakan sistem ‘kurikulum tersamar’, dimana dia menekankan bahwa pengajar atau guru dalam hal ini mampu mewujudkan suatu kondisi pribadi yang mencerminkan moral terhadap peserta didik. Dalam proses penelitiaannya Kohlberg, dkk mengambil sample anak-anak dan remaja. Sebagai sebuah realita, dimana fase tersebut merupakan fase yang tepat dalam mengambil sebuah kesimpulan guna menemukan teori moral yang mendekati teori moral yang ideal.

Kohlberg mengantisipasi atas nuansa relativitas moral yang pada saat ini didominasi oleh kaum Durkheimian, dan para psikologi yang beraliran relativisme ekstrem. Makanya, dalam kondisi ini dia lebih mengambil jalan tengah. Masih menurutnya, bahwa dalam proses perkembangan moral disini, dipengaruhi oleh lingkungan sosial dan keluarga sebagai sebuah faktor dominan dalam membentuk moralitas si anak. Maka, pendidikan umum moralitas yang ditekankan Kohlberg sangat diutamakan.

Referensi:

  • Prof.Dr.K.Bertens.”Etika”. 2005.Gramedia;Jakarta
  • Drs.John de Santo. “Tahap-Tahap Perkembangan Moral. Lawrence Kohlberg”. 1995. Kanisius; Yogyakarta
  • Prof.Dr.Franz Magnis-Suseno. “20 Tokoh Etika Abad ke-20”. 2004. Kanisius; Yogyakarta

Eko Widiyarto (Mahasiswa Fak.Filsafat UGM/Santri Ma’had Daaru Hiraa, Yogyakarta)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: