suficinta

MULTIKULTURALISME; Pribadi yang Solider dan Resolusi Konflik.*

Posted on: May 21, 2008

Pribadi yang Solider dan Toleran

Individu dalam hal ini merupakan sosol tunggal dari manusia yang memiliki karakter khas, karakter fitrah yang melekat sejak lahir. Individu merupakan unsur yang melekat dalam proses pembentukan komunitas atau kelompok. Dimana disana terdapat komposisi-komposisi yang saling mempengaruhi satu sama lain, terkadang menjadi faktor perubahan sosial dalam struktur kelompok atau masyarakat. suku, agama, bahasa, gender dan budaya kelas. Suku merupakan komunitas yang terbentuk secara sosio-kultual dalam suatu daerah. Agama merupakan ajaran yang berupa pengakuan akan keberadaan Tuhan dan sebagai sarana mendekatkan diri kepadaNya, bahasa merupakan sarana komunikasi aktif-pasif dalam proses interaksi sosial antar individu maupun kelompok, sedangkan pengertian gender memiliki beberapa definisi yang beragam, namun yang mendekati ialah peran yang dilakukan perempuan dan laki-laki dalam kehidupan sehari-hari, dan budaya kelas merupakan kultur yang tercipta sebagai nuansa yang mendorong terbentuknya dinamika kelompok.

Dari sekian komunitas diatas, masing-masing memiliki problematika yang berbeda terkadang pula muncul konflik, yang tercipta atas konsekuensi kondisi multikultural. Peran individu sebagai subjek memang sangat berpengaruh disamping faktor ekstern, spt; lingkungan, pendidikan, keluarga, dll. Seperti yang disebutkan dalam buku “Pendidikan Multikultural;cross-cultural understanding untuk Demokrasi dan Keadilan”, karya M. Ainul Yaqin, bahwa problem yang terjadi dalam keberagamaan, diantaranya: pengakuan negara terhadap agama dan kepercayaan, konflik keagamaan di Indonesia, dan paradigma pemahamaan keagamaan yang eksklusif. Problem yang terjadi dalam bahasa, diantaranya; politisasi bahasa, pelarangan penggunaan bahasa tertentu, dan stereotip bahasa. Problem yang terjadi pada gender diantaranya; ketidakadilan gender, pemahaman gender tradisional, serta perempuan dan peran-peran strategis. (M.Ainul Yaqin;2005). Selain itu, problem yang terjadi pada suku atau etnis tertentu diantaranya; sikap etnosentrisme, yakni menggunakan standar norma dan nilai kebudayaannya untuk menilai kebudayaan orang lain, pandangan stereotip, yakni keyakinan seseorang untuk menilai yang didasarkan atas pengetahuannya serta pengalaman, dan prasangka. ( Syarifuddin Iskandar;2006).

Problem yang terjadi tidak lain merupakan sebuah konsekuensi atas keberagaman dan model multikultural yang terjadi saat ini. Individu sebagai pelaku, dalam hal ini mempengaruhi proses dinamika horizontal atas kondisi multikultural tersebut, sehingga mengharuskan suatu sikap  kedewasaan berfikir dan berperilaku. Dari sana sikap toleransi, solidaritas, dan empati yang dimiliki oleh setiap individu merupakan suatu keharusan dan kebutuhan dalam rangka mewujudkan suatu tatanan masyarakat yang bernilai tinggi, dan demi terciptanya stabilitas yang dinamis. Terutama dalam hal ini, adalah toleransi beragama, yang menurut Will Kymlicka merupakan bagian yang tak terpisahkan dari kondisi masyarakat liberal.

Pribadi yang solider dan memiliki sikap toleran ini menjadi sebuah perwujudan atas pengakuannya akan kondisi masyarakat yang plural, sehingga tuntutan kesamaan dan persamaan dalam hal ini menjadi sesuatu yang niscaya. Sebuah proses pendidikan multikultural menjadi suatu yang melandasi atas proses kepemahaman individu diatas. Dimana proses pemahaman akan kondisi realitas dan sikap yang terjadi mestilah mampu mewujudkan sikap bijak individu dalam bersikap dan berprilaku.

Suatu kelompok atau komunitas merupakan sekumpulan individu yang bersatu atas kesadaran, yang memiliki hubungan timbal balik, dan memiliki tujuan bersama. Meskipun disana sebenarnya, peran individu menjadi kecil karena dia juga mesti berbagi hak dengan orang lain dalam kelompoknya, dalam artian disana muncul hak kolektif dan hak individu. Selaras dengan Mill, bahwa ‘individu akan hilang dalam massa’.Meskipun tidak hilang seluruhnya. Dinamika kelompok kadang tercipta dari sebuah benturan-benturan ringan (yang tidak sampai pada konflik), namun tak sedikit pula yang juga diikuti oleh konflik. Dikarenakan interaksi sosial yang begitu intensif atau pola interaksi yang bermasalah, dan ketidakpemahaman akan kondisi perbedaan baik secara kultural maupun struktural, maka disanalah muncul konflik. Dampak terbesar atas konflik ialah korban jiwa, harta benda, dan memunculkan trauma psikologis individu maupun kelompok. Namun disisi lain, konflik dalam hal ini mampu mewujudkan peningkatan rasa solidaritas dalam kelompok, munculnya perubahan atas kesadaran individu maupun kelompok akan kondisi perbedaan dan dampak konflik yang terjadi, dll.

 

Resolusi Konflik.

Konflik memiliki pengertian, suatu proses pergulatan hingga pertikaian individu dengan individu lainnya atau dalam suatu kelompok. Sebenarnya konflik pun menyertai individu yang disebut dikemudian dengan konflik bathin atau jiwa. Adapun penyebab konflik menurut Selo Soemardjan, adanya perbedaan pendirian atau perasaan antara individu atau kelompok, adanya perbedaan kepribadian diantara individu/kelompok disebabkan faktor kebudayaan, perbedaan kepentingan diantara individu/kelompok, adanya perubahan sosial yang menyentuh pada tataran sistem nilai yang berlaku dimasyarakat. (Syarifuddin Iskandar;2006).

Konflik terjadi pada masyarakat majemuk. Dimana kondisi sosio-kultur sangat mendukung kearah penyesuaian (adaptasi) individu atau suatu kelompok, hingga pada tataran pemahaman dan kedewasaan dalam bersikap dan bertindak. Pemahamaan akan perbedaan dan bagaimana seharusnya kita bertindak dan bersikap atas perbedaan yang terjadi tersebut? Bukan menghilangkan, namun bagaimana sebenarnya perbedaan tersebut menjadi kekuatan yang luar biasa dalam membangun masyarakat yang lebih baik dan besar.

Dalam mewujudkan individu yang mampu untuk memecahkan suatu konflik, ialah dengan melalui pendidikan, melalui komunikasi efektif (meminjam teori komunikatif Habbermas), atau melalui pengalaman, sehingga diharapkan mampu menciptakan kondisi individu yang sadar, paham dan bijak. Formula pemecahan konflik atau manajemen resolusi konflik adalah strategi penanggulangan konflik yang tidak saja mencangkup apresiasi terhadap konflik yang berwujud perilaku menerima perbedaan dan keanekaragaman, tetapi juga menstimulinya, lalu menyelesaikannya guna mewujudkan perbaikan-perbaikan yang bermanfaat bagi kalangsungan hidup sistem sosial.(Syarifuddin Iskandar;2006). Didalam diri individu pastilah memiliki potensi akan bagaimana memenej konflik tersebut? Hanya yang menjadi problem umumnya ialah kemampuan untuk mengasah potensi tersebut. Dalam melakukan resolusi konflik, tidak terlepas atas sebuah proses yakni  indivdu untuk mampu meneliti, menganalisa, mengkaji terkait essensi penyebab konflik yang terjadi.

Adakalanya kita terjebak pada proses analisa konflik yang parsial, sehingga dalam pemecahannya pun bersifat parsial, dan sulit untuk menyentuh tataran fundamental problematika yang sesungguhnya. Salah satunya kita juga terkadang terjebak pada proses dikotomi faktor politik, ekonomi, agama, sosial, atau budaya masyarakat.Semata itu. Meskipun itu dapat pula menjadi faktor penyebab, namun bukan mustahil bila hal tersebut hanyalah “kata kunci” yang bersifat sementara dalam proses kita mencari akar problematika yang sesungguhnya. Proses resolusi konflik memang dibutuhkan saat ini, dengan landasan keadilan, merupakan hasil yang didasarkan atas kesepakatan bersama, dan solidaritas individu/kelompok, menjadi sesuatu hal yang mesti selalu diperjuangkan oleh setiap individu/kelompok, sehingga memungkinkan terciptanya tatanan masyarakat majemuk yang senantiasa dinamis, progresif, serta damai-sejahtera.

 

 

REFERENSI:

·        Dr. Syarifudin Iskandar. 2006. “Konflik Etnik Dalam Masyarakat Majemuk”. UM Press; Malang.

·        M. Ainul Yaqin. M.Ed. 2005. “Pendidikan Multikultural;cross-cultural understanding untuk Demokrasi dan Keadilan”. Pilar Media; Yogyakarta.

·        Will Kymlicka. 2003. “Kewargaan Multikultural;teori liberal mengenai hak-hak minoritas”. LP3ES; Jakarta.

 

 

* Sayyid Muda Widiyarto. (Mahasiswa Fakultas Filsafat UGM, dan Santri Pesantren Mahasiswa Daaru Hiraa, DIY)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: