suficinta

ibnu Miskawaih sang filsuf etika muslim

Posted on: October 31, 2008

Nama lengkap beliau adalah Abu ‘ali al-Khazin ahmad bin ya’qub bin miskawaih, dipanggil ibnu Miskawaih atau ibnu Maskawaih. Dia dilahirkan di Ray (Teheran), mengenai tahunnya masih banyak kontroversi atasnya ada yang menyangka 330 H dan ada juga yang mengatakan 325 H. Dia dilahirkan dalam masa bani Abbasiyyah. Ibnu Maskawaih seorang keturunan Persia, yang konon dulunya keluarganya dan dia beragama Majuzi dan pindah ke dalam Islam dan menjadi pemikir Islam sangat berpengaruh dizamannnya. Ibnu Maskawaih berbeda dengan al-Kindi dan al-Farabi yang lebih menekankan pada aspek metafisik, ibnu Maskawaih lebih pada tataran filsafat etika seperti al-Ghazali.

Ibnu Maskawaih merupakan filsuf yang bergelar guru ketiga setelah al-Farabi yang digelari guru kedua. Sebagai bapak etika islam, beliau telah merumuskan dasar-dasar etika didalam kitabnya Tahdzib al-Akhlaq wa Tathir al-A’raq (pendidikan budi dan pembersihan akhlaq). Sementara itu sumber filsafat etika ibnu Maskawaih berasal dari filsafat Yunani,peradaban Persia, ajaran Syariat Islam, dan pengalaman pribadi.

Akhlaq merupakan bentuk jamak dari Khuluq, yang oleh beliau Khuluq dimaknai peri keadaan jiwa yang mengajaknya untuk melakukan perbuatan-perbuatan tanpa difikirkan dan diperhitungkan sebelumnya. Sehingga dapat dijadikan fitrah manusia maupun hasil dari latihan-latihan yang telah dilakukan, hingga menjadi sifat diri yang dapat melahirkan khluq yang baik. Menurutnya da kalanya manusia mengalami perubahan khuluq sehingga disana dibutuhkan aturan-aturan syariat, nasehat-nasehat, dan ajaran-ajaran tradisi terkait sopan santun.

Ibnu Maskawaih memperhatikan pula proses pendidikan akhlaq pada anak, yang menurutnya kejiwaan anak-anak merupakan mata rantai dari jiwa kebinatangan dan jiwa manusia yang berakal, namun jiwa anak-anak menghilangkan jiwa binatang tersebut dan memunculkan jiwa kemanusiaannnya. Jiwa manusia pada anak-anak mengalami proses perkembangan. Sementara itu syarat utama kehidupan anak-anak adalah syarat kejiawaan dan syarat sosial. Sementara nilai-nilai keutamaan yang hyarus menjadi perhatian ialah pada aspek jasmani dan ruhani. Dan beliau pun mengharuskan keutamaan pergaulan anak-anak pada sesamanya mestilah ditanamkan sifat kejujuran, qonaah, pemurah, suka mengalah, mngutamakan kepentingan orang lain, rasa wajib taat, menghormati kedua orang tua, dll.

Ibnu Maskawaih membedakan antara al-Khair (kebaikan), dan as-sa’adah (kebahagiaan). Beliau mengambil alih konsep kebaikan mutlak dari Aristoteles, yang akan mengantarkan manusia pada kebahagiaan sejati. Menurutnya kebahagiaan tertinggi adalah kebijaksanaan yang menghimpun dua aspek; aspek teoritis yang bersumber pada selalu berfikir pada hakekat wujud dan aspek praktis yang berupa keutamaan jiwa yang melahirkan perbuatan baik. Dalam menempuh perjalananannya meraih kebahagiaan tertinggi tersebut manusia hendaklah selalu berpegangan pada nilai-nilai syariat, sebagai petunjuk jalan mereka.

Pendapat ibnu Maskawaih mengenai jiwa, terdiri atas 3 tingkatan annafsun baimiyah (nafsu kebinatangan), annafsun sabu’iyah (nafsu binatang buas), dan annafsun nathiyah (jiwa yang cerdas). Mengenai filsafat etika nya ibnu Maskawaih memiliki berbagai pernyataan: menurutnya setiap manusia memiliki potensi asal yang baik dan tidak akan berubah menjadi jahat, begitu pula manusia yang memiliki potensi asal jahat sama sekali tidak akan cenderung kepada kebajikan, adapun mereka yang yang bukan berasal dari keduanya maka golongan ini dapat beralih pada kebajikan atau kejahatan, tergantung dengan pola pendidikan,pengajaran dan pergaulan.

Ibnu Maskawaih membedakan antara kebajikan dengan perasaan beruntung, menurutnya kebajikan adalah yang dituju oleh seseorang dengan perasaan gembira. Kebajikan memiliki dasar yakni perasaan cinta yang harus dimiliki seseorang terhadap manusia seluruhnya. Manusia tidak akan mencapai kesempurnaannya kecuali dengan kebersamaan. Ibnu Maskawaih menyatakan bahwa apabila agama dipelajari sungguh-sungguh maka sesungguhnya ia merupakan mazhab akhlaq yang berdasarkan cinta manusia dengan sesamanya, dan agama merupakan suatu latihan akhlaq jiwa manusia.

beberapa kitab yang berisikan tentang akhlaq yang merupakan karya beliau kitab al-Fauz al-Akbar, kitab Thaharat an-Nafs, dan kitab yang cukup terkenal kitab Tahdzib al-Akhlaq wa Tathir al-A’raq.

Sumber:
Sejarah Filsafat Islam. Prof.Dr.H.Aboebakar Aceh. Penerbit Ramadhani; Solo
Diktat Filsafat Islam Seri C: Ethika Islam. UGM.

eko widiyarto.
santri pp al-munawwir krappyak jogjakarta.
mahasiswa filsafat ugm

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: