suficinta

Dari Maiyah ke Simtud Duror

Posted on: December 18, 2008

Pengembaraanku terkait jamiyyah an-nahdhiyin, begitulah aku menyebutnya. Awal perkenalanku diajak oleh salah seorang kawan yang tinggal se asrama denganku sewaktu kami masih bersama-sama mengaji di daaru hiraa. Saat itu pada suatu malam, tanggal 17 setiap bulannnya, kami diajaknya untuk menghadiri pengajian akbar atau lebih tepatnya “mengaji realita” yang senantiasa mengangkat tema-tema yang up to date, perjalanan dari tempat kami ke kediaman ‘sang guru alam’, Emha Ainun Nadjib cukuplah jauh, sekitar 45 menit, disamping nuansa malam yang dingin.

Namun sesampainya di tempat yang terlebih dulu kita akan dihadapkan pada tempat parkir yang kalau siang merupakan pekarangan dan kebun milik warga. Motor kami terparkir disana dengan penjagaan beberapa orang yang dengan rela, diri mereka menjaga motor yang begitu banyak terparkir ditempat yang gelap dan kadang tersembunyi oleh pepohonan. Dengan infaq sekitar seribu setiap motor,

Kembali ke pokok…

Disanalah perkenalanku dengan, apa itu mocopat syafaat? Apalagi pengertian jamaah maiyah? Mocopat syafaat adalah nama pengajian yang diselenggarakan oleh Cak Nun panggilan akrab Emha Ainun Nadjib, bersama Kyai Kanjeng, yang merupakan grup shalawatan beliau, yang jam terbangnya sudah mencapai benua seberang. Sedangkan Jamaah Maiyah merupakan ’santri’ yang secara rela dan tanpa ikatan tertentu kecuali emosional menyatu dalam aktifitas mocopat syafaat, yang aktif sampai kepengurusannya ataupun yang hanya menghadiri pengajian tersebut.

Awal mula aku menghadiri mocopat syafaat, setiap tanggal 17 malam. Hati ini serasa menemukan iklim baru, nuansa yang berbeda dari pondokku, dan suasana kebersamaan serta toleransi yang sangat dijunjung tinggi oleh Cak Nun cs. Tamu yang hadir bukanlah sebangsa kyai, priyayi, pria, wanita semata, melainkan segala lapisan golongan, agama, bangsa, pemikiran, dll. Inilah menurutku, pengajian lintas lapisan, nyaris tidak ada pemisahan, seolah menyatu dalam bingkai shaf yang coba disusun rapih oleh sang imam, Cak Nun.

Adapun aktifitas yang terjadi selama pengajian, hanyalah berupa nyanyian shalawat dan lagu-lagu yang telah di ubah oleh Kyai Kanjeng dengan bentuk lebih menarik untuk didengar dengan alunan saron, alat petik, alat gesek, keyboard, dll, menjadi lebih hidup dan menyatu. Disana kami juga disuguhkan dengan hidangan berupa diskusi-diskusi lepas terkait tema yang sedang mencuat di negeri ini, mengundang pembicara dari berbagai lapisan, serasa lebih enjoy lagi dikarenakan pembawaan mc nya yang sedikit banyol dengan guyonan2 ringan yang cukup mampu membuat kita tertawa lepas. Pengajian yang dipandu langsung oleh Cak Nun dan rekan serta istrinya, Novia Kolopaking, yang juga terkadang diselingi oleh nyanyian shalawatan serta lagu gubahan lainnya. Terkadang pengajian tersebut diisi oleh beberapa aktifitas lain seperti pembacaan puisi atau hal lainnya, yang tidak dibatasi dalam bentuk apapun, yang jelas merupakan hasil aktualisasi jiwa dan fikiran.

Simtud duror…

Apa itu? Bagaimana aktifitasnya?

Simtud duror yang mulai terangkat pamornya, mulai populis dikalangan umum, yang sebenarnya jauh-jauh hari bahkan puluhan tahun, sudah sempat populer dikalangan habaib. Simtud duror sendiri merupakan kumpulan shalawat+maulud yang disusun oleh al-Maghfurlah al-Habib ’Ali bin Muhammad al-Habsy, yang kemudian dijadikan wiridan kaum habaib di Indonesia. Entah, sejak kapan kemudian sintud duror mulai memasuki wilayah santri di pesantren tradisional, yang kemudian menjadi populer.

Lambat laun Simtud duror yang berisi manaqib kanjeng Rasul, Muhammad saw itu, dan shalawat terhadap beliau dan keluarganya, mulai terangkat ke permukaan, seperti terlihat pada sabtu, 13 Desember 2008 yang lalu salah satu perguruan tinggi swasta di Yogyakarta, UPN ”veteran” Yogyakarta, mampu mengundang dan menyelenggarakan Mujahadah Akbar yang langsung memunculkan grup Simtud Duror, yang dipimpin oleh Habib Syech Abdul Qodir Assegaf, yah beliaulah sosok yang mempopulerkan jamiyyahan simtud duror saat ini di Yogyakarta, beliau dan para habaib lainnya yang senantiasa hadir dalam setiap majelis shalawatan simtud duror.

Nuansa dan suasana yang dihadirkan tentu berbeda dengan mocopat syafaat a la Cak Nun diatas, Simtud duror tentunya penuh dengan tarikan emosional yang kental, dimana kita semua diajak untuk senantiasa mengingat keagungan kekasih-Nya, penghayatan yang begitu besar dalam setiap untaian kalimat shalawatan tersebut cukup mampu membuat kita tersadar, akan kebutuhan kita terhadap Rasulullah saw.

Disana tidak ada diskusi lepas, nampak seragam mesti terkadang berbeda aliran pemahaman dalam berislam. Di majelis shalawatan tersebut hanya ada untaian syair yang mampu dibawakan secara menyentuh dan terdapat hal-hal yang merupakan kritik sosial dalam perspektif nilai-nilai moral Islam. Itulah yang membedakan simtud duror dengan mocopot syafaat. Nuansa, suasana yang dibangun, dan proses pembelajaran serta pemahaman religiusitas kita dalam metodologi yang berbeda, tentunya.

Dari sinilah pengembaraan spiritualku berlangsung, mocopot syafaat yang berawal dari ajakan salah seorang kawan, sedangkan simtud duror berawal dari sikap penasaranku dan akhirnya memberanikan diri menghadiri jamiyyahan simtud duror pertama kali di PP Nurul Ummah, Kotagede, yang kemudian mengantarkanku lebih dekat terhadap maulud simtud duror dikemudian hari, juga terhadap Habib Syech Abdul Qodir Assegaf.

{we,171208}

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: