suficinta

Guru, Eksistensi yang Hilang

Posted on: March 24, 2009

Sungguh hari yang menyenangkan buatku, bagaimana tidak? Kunjunganku bersama teman ke suatu Sekolah Luar Biasa A yang khusus penyandang tuna netra di daerah Klaten, Jawa Tengah, sudah cukup membuat diri ini terenyuh, sekaligus bangga, sesekali mesti bersyukur berkali-kali kepada Yang Menciptakan ku di langit.
Perjalanan yang kami lalui cukup jauh, lumayan untuk ukuran 1 jam perjalanan dan dengan kondisi matahari yang cukup menyengat. Menggunakan motor, melaju dengan kecepatan cukup kencang, namun sesekali terkurangi sebab kondisi yang tidak memungkinkan. Setelah menuju Bapeda, dimana temanku hendak melakukan izin untuk penelitian, lalu kami ke tempat yang menjadi tempat riset temanku itu.
Perlahan memasuki sebuah sekolah yang jaraknya hanya 100 meter saja dari pinggir jalan raya. Areal sekolah cukup luas, dengan beberapa ruang kelas dan asrama siswa disana. Aku melihat, aka nada kegiatan yang sifatnya nonformal disana, sepertinya memang dari kalangan mahasiswa atau LSM, setelah melihat salah satu kondisi kelas, yah,,dari sana aku merasakan sesuatu yang membuat diri ini meski terenyuh, tersenyum, bahkan sesekali mestilah bersyukur dengan kondisiku saat ini.
Aku melihat kondisi mereka, saat itu masih sekilas lalu, namun mata ini, tidak langsung melupakan sedikit input yang ku dapat, setelah ke ruang guru bersama temanku, disana dia berbincang-bincang dengan salah seorang guru, yang kutahu beliau juga seorang tuna netra,,subhanallah, tapi beliau sudah cukup tua usianya, ada lagi disana seorang ibu, yang sedang asyik membaca buku dengan huruf Braille, dan senasib dengan bapak tadi, kemudian tak lama kemudian masuk seorang guru yang terlihat menggunakan tongkat yang dapat dilipat, dari seragamnya, beliau memang seorang guru yang juga tuna netra.
Perlahan langkahku melaju keluar, namun pandanganku tertuju pada suatu meja dengan sebuah piagam penghargaan yang telah di pigura, aku baca, ternyata itu piagam penghargaan dari mesium MURI Indonesia dengan tanda tangan Pak Jaya Suprana, dengan prestasi, bahwa sekolah itu tercatat sebagai kelompok marching band termuda di kalangan SLB Kelas A di Indonesia dengan usia 6-12 tahun…
Subhanallah,,,itukah sebuah awal kebanggaan ku pada sekolah sekaligus siswa-siswi di SLB A ini.
Langkahku perlahan keluar ruang guru, aku melihat sekelompok siswa sedang melakukan game/simulasi dengan memukul plastik yang berisi air yang telah di gantung pada tali diantara 2 pohon. Mereka membuatku tertarik, membuatku cukup berkesan, sekaligus membuatku terharu,,,betapa tidak…dalam kondisi keterbatasan yang mereka miliki, aku masih melihat secara nyata, keceriaan yang mereka munculkan, seolah mereka mampu merasakan cahaya kehidupan dihati mereka, meski mata mereka tidak mampu menatap kenikmatan dunia ini, mereka memang masih usia SD dan TK,,pantas masih mampu untuk ceria dan bersenang-senang (sebagian orang akan berfikir demikian), tapi bukan itu alasan yang tepat. Melainkan aku dapat belajar tentang hidup pada mereka, walau hanya setengah hari bahkan hanya beberapa jam saja mereka menjadi guru buatku….
Kita yang diberikan banyak sekali kelebihan, terkadang telah menjadi buta dan mati oleh kehidupan, bahkan sesekali enggan untuk menelanjangkan mata kita yang lebih tertarik untuk menutup rapat-rapat hati dan fikiran ini. Dunia yang serba bercahaya, yang tanpa disadari sesungguhnya telah membutakan mata, hati, dan fikiran ini. Hingga lebih parah lagi, kita sulit untuk membedakan mana yang baik dan mana yang buruk, disinilah mata kita seolah tumpul, perlahan hingga terpejam selamanya oleh kesenangan dunia. Lantas, bagaimana dengan para tuna netra apakah mereka mampu melihat? Tentu, jawabannya tidak. Tapi pendengaran, serta lebih baik lagi adalah mata hati mereka, lebih tajam dari sekedar manusia yang diberikan kelengkapan panca indra sekalipun.
Manusia yang buta sesungguhnya lebih baik penglihatannya, dan manusia yang mampu melihat, terkadang lebih parah dari seorang yang buta sekalipun. Tanpa disadari, para pelaku kejahatan, koruptor, bahkan lainnya, telah menjadi contoh pelecehan eksistensi manusia yang telah diberikan kesempurnaan panca indra, namun tanpa disadari pula para tuna netra, telah menghargai eksistensi mereka sendiri dan orang lain dengan penglihatan nurani mereka yang lebih tajam.
Aku menyadari dari sana, bahwa diri ini hanyalah papa, tanpa mereka tidak ada keseimbangan dalam dunia ini. Menjadikan mereka yang tuna netra, tuna rungu, tuna grahita, bahkan yang lainnya, sebagai guru kehidupan, memang layak dan sepantasnya kita menjaga mereka sebagai seseorang yang terkadang lebih mampu menghargai eksistensi manusia itu sendiri.

{deKcL}
sabtu,21/03/09
kamar inspirasi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: