suficinta

Simtud Duror: ‘Mukaddimah’ Dakwah NU di UGM

Posted on: April 18, 2009

Suasana sudah cukup ramai malam itu, setelah kami memarkir motor di area parkir masjid kampus termegah di Indonesia ini, langkah kami pun langsung menuju serambi masjid yang luas dan biasa digunakan untuk kegiatan-kegiatan besar. Malam senin ini (12/4) dibawah komando Keluarga Mahasiswa Nahdhatul ‘Ulama Universitas Gadjah Mada (KMNU UGM), berhasil mengadakan Majelis Shalawatan Simtud Duror yang dipimpin oleh Habib Syech bin Abdul Qodir Assegaf, bersama grup rebana yang biasa mengiringi beliau.
Sebelum kegiatan puncak dimulai, kami sempat menyaksikan sambutan yang diutarakan oleh Prof. Dr. KH. Muhammad Maksum selaku Ketua Tanfidziyah PWNU DIY, yang selalu mengulang ucapannya sendiri, bahwa kegiatan malam ini hanyalah bersifat ‘mukaddimah’ atau awal dari rangkaian kegiatan yang kedepan akan menjadi agenda KMNU untuk menyiarkan dakwah kampus di UGM, serta turut mewarnai dinamika dakwah kampus dengan aroma shalawatan kepada kanjeng Nabi Muhammad saw, serta dengan aktifitas lainnya, yang dilandasi atas ruh dakwah ahlus sunnah wal jama’ah (aswaja).
Untaian kalimat beliau, serasa membangkitkan optimisme saya selaku salah satu peserta malam itu, yang juga ditandai dengan respon riuh peserta lainnya yang sama-sama berharap, bahwa nuansa dakwah ahlus sunnah wal jamaah jamiyah an-nahdhat al-‘ulama harus diawali dari malam ini dan terus mengudara untuk waktu yang tidak terbatas. Ini semua menjadi tanggung jawab semua mahasiswa dan siapa saja yang merasa diri mereka bagian dari jamiyah ini.
Penulis melihat arus dakwah kampus yang lebih didominasi dengan nuansa yang kurang sehat serta kurang adanya tabayun (klarifikasi) diantara kelompok, terkadang membuat nuansa dakwah terkesan sangat eksklusif dan egoisme sentris, antara kelompok Islam jarang (atau bisa dikatakan tidak) untuk senantiasa berdialog terkait kepercayaan dan keyakinannya dalam menjalankan sunnah Nabi. Tidak jarang masjid dijadikan ajang menghakimi atas ritual kelompok lain yang dianggap bid’ah dan tergolong dhalalah (buruk), tanpa dilakukan tabayun terlebih dulu, dan itu mencitrakan dakwah Islam yang keras dan egois padahal menghukumi saudaranya yang masih meyakini bahwa tiada ilah selain Allah dan Muhammad merupakan utusan Allah merupakan suatu perbuatan yang lebih sangat buruk dari itu.
Semoga Simtud Duror yang malam itu dipimpin oleh salah satu murid dari cucu penyusun syair-syair Simtud Duror, Syech al ‘allamah Habib Muhammad al Habsyi dari Hadramaut, mampu menjadi batu loncat awal perjuangan dakwah kampus para santri jamiyah yang didirikan oleh al ‘allamah al maghfurlah Romo KH. Muhammad Hasyim ‘Asyari tersebut, yang sebentar lagi genap seabad usianya.
Malam itu untaian syair-syair simtud duror yang terlantun dari lisan Habib Syech dan para peserta mampu menyihir nuansa di area Masjid Kampus UGM semarak oleh pujian terhadap baginda Muhammad saw, bershalawat terhadap beliau merupakan suatu kewajiban atas seluruh umat muslim.

Allahumma shalli ‘ala Muhammad….
Allahumma Shalli ‘Alaih
Allahu Akbar,,!!

-deKciL-
Krpyk,16.04.09;21.16 wib

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: